Senin, 18 Mei 2009

PARADIGMA PENDIDIKAN


Oleh : Toto Pardamean

Pendidikan sesungguhnya adalah bertujuan untuk merubah kehidupan manusia menjadi lebih baik. Lebih baik dalam berbagai dimensi termasuk dimensi kemanusiaannya. Karena kemanusiaannya juga harus lebih baik maka berbagai pendekatan yang dilakukan didalam pelaksanaan kegiatan pendidikan tentu harus berpijak pada azas-azas kemanusian juga.Berpijak pada azas-azas kemanusiaan artinya tidak boleh ada pendekatan yang bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan walau dalam bentuk yang sangat samar sekalipun.

Pendidikan dengan cara-cara manusiawi mencakup beberapa elemen yang terlibat secara langsung maupun tidak dalam kegiatan pendidikan dimanapun ia dilaksanakan, Pemerintah, DPR, Praktisi Pendidikan, peserta didik, dan seluruh lapisan masyarakat.Demikian juga soal konsepsi dan praktis yang berhubungan dengan pendidikan harus diikat oleh azas kemanusiaan itu.

Apa yang perlu diperhatikan dengan serius saat ini adalah persoalan pendidikan yang tidak bersungguh-sungguh lagi diperlakukan sebagai sebuah persoalan kemanusiaan. Terlalu banyak sikap dan perilaku yang terjadi didunia pendidikan kita justru mengabaikan persoalan kemanusiaan itu. Apakah sikap dan political will pemerintah yang sekedarnya saja memandang dunia pendidikan,ketidak seriusan DPR mengawal perjalanan pendidikan kita, sikap mendua dari sebagian besar masyarakat terhadap pendidikan kita, pradigma lama para guru yang belum berubah, sampai kepada soal karakteristik siswa sekarang ini. Berbagai komponen yang disebutkan itu masing-masing dengan cara dan versinya masing-masing dalam mengingkari azas kemanusiaan itu.

Pendidikan sebagai program kemanusiaan mengandung arti sebagai upaya untuk mengoptimalisasi potensi kemanusiaan manusia itu sendiri sehingga kedudukannya sebagai makhluk paling mulia itu terjaga dan terpelihara. Potensi yang hendak dioptimalisasi itu adalah potensi kecerdasan, potensi kearifan,potensi nurani, potensi kasih sayang, potensi akhlaq dan keimanan, potensi watak dan keperibadian. Dimulai dari pemahaman potensi yang salah inilah terjadi pengkroposan nilai-nilai kemanusiaan dari dunia pendidikan itu.Dunia pendidikan kita sekarang ini justru tidak menjadi solusi bahkan menjadi problema. Lembaga-lembaga pendidikan kita menjadi penyumbang terbesar gelombang pengangguran sebab dunia pendidikan kita mulai dari tingkat SMA/MA/sederajat hingga PT tidak mampu menghasilkan para kreator lapangan kerja justru para pencari kerja terutama sebagai pegawai/karyawan bahkan hingga bersedia mengumpan sejumlah uang demi status pekerjaan yang tak sebanding gajinya dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Ini masalah serius yang hingga kini tak kunjung menjadi perhatian. Lembaga pendidikan kita tidak malah tidak berhasil menekan angka kebodohan karena biaya pendidikan yang sangat fantastis (biaya resmi dan berbagai keperluan dan kutipan). Masyarakat justru memilih lembaga pendidikan yang lebih banyak menjanjikan lowongan kerja dengan jalan pintas.


Tetapi bagaimanapun juga sebagai ujung tombak dunia pendidikan para Guru sebagai praktisi pendidikan memikul konsekuensi logis untuk digolongkan sebagai kelompok paling rentan terhadap kemerosotan nilai-nilai pendidikan kita. Jadi kalaupun disoroti terlebih dahulu jika dikaitkan dengan kemerosotan nilai-nilai pendidikan kita maka dapat dianggap wajar saja. Gurulah yang secara langsung berhadapan setiap harinya dengan peserta didik. Tetapi sayangnya masih banyak guru yang salah persepsi dalam menempatkan posisinya sebagai profesional. Guru lebih bangga dijadikan sebagai manusia super tanpa cela, sakral tak boleh dibantah,penguasa yang seluruh perkataan dan perbuatannya benar tak ada yang salah. Fokusnya terbatas hanya pada kegiatan transfer isi otaknya kepada siswanya. Dia tidak melakukan sharing nilai-nilai, tidak melakukan membangun kecerdasan berpikir. Kebanyakan guru lebih bergairah memenjarakan siswanya dalam dogma dan mengukuhkan cara berpikir pragmatis dan tidak memberi ruang berpikir yang merdeka. Hasilnya adalah anak-anak menjadi tidak cerdas,ketergantungannya sangat tinggi, dan sangat rentan terhadap berbagai problema.

Suasana tegang, cemas,tertekan merupakan keseharian yang dialami peserta didik disemua tingkatan sejak pagi sampai sore. Tugas-tugas yang menumpuk tanpa ada jaminan kelulusan, keseriusan yang juga tak menjamin kebenaran usaha yang mereka lakukan adalah seolah-olah syah-syah saja dilakukan oleh guru/dosen sampai kepada tidak ada jaminan dan keistimewaan apapun bagi mereka yang berprestasi. Banyak sekali kita melihat kejadian di lembaga-lembaga pendidikan yang memfungsikan dirinya sebagai wajah lain dari sebuah penjara. Inilah yang kita maksudkan hilangnya azas-azas kemanusiaan dari dunia pendidikan kita sekarang ini. Jadi wajar saja jika hasil pendidikan kita tidak menghasilkan manusia-manusia yang telah menjadi manusia sesungguhnya. Kita harus ingat sejak anak dilahirkan bagai kertas putih itu maka para gurulah yang lebih banyak berperan sebagai pengisi kertas putih itu. Sebuah keniscayaan yang sering dilupakan oleh para penanggungjawab pendidikan kita mulai dari strata yang tinggi sampai ke strata yang paling rendah.

Untuk memperbaiki semua itu maka seluruh kegiatannya harus serempak dilakukan pada semua lini dan komponen tidak terpotong-potong dan terkotak-kotak atau terpisah dengan jarak waktu yang sangat renggang. Apakah itu kebijakan pemerintah, UU, Anggaran, sistem, pelaksana dan sebagainya sehingga fungsi pendidikan dikembalikan sebagai kegiatan kemanusiaan yang utuh.

MENJEMPUT KADER LINGKUNGAN DI SEKOLAH FORMAL


Oleh : Toto Pardamean
Pendahuluan
Issue Penyelamatan Lingkungan tampaknya terus dikumandangkan oleh berbagai kalangan. Fenomena Alam yang mulai memperlihatkan amarahnya tampaknya mulai menimbulkan rasa cemas teramat besar dikalangan manusia. Dalam rentang waktu yang semakin kritis diperlukan langkah-langkah praktis untuk memulai revolusi hijau yang dianggap sebagai jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bumi. Berbagai organisasi baik pemerintah maupun nonpemerintah bergerak dalam bentuknya masing-masing namun sangat sedikit yang menyentuh secara langsung kepada anak-anak muda yang tengah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah-sekolah, padahal mereka adalah pewaris bumi ini dan merekalah yang paling rentan menjadi korban dari kerusakan alam tersebut.

Anak Muda sebagai Kekuatan
Anak muda sebagaimana karakternya adalah kaum lepas yang sukar untuk ditaklukkan jika ia sudah merasa jalan yang ia pilih adalah jalan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Ia akan siap melakukan apa saja sebagai bentuk pertahanan diri dari tindakan yang ia anggap mengancam keasyikannya dengan dunia yang ia pilih.Sayangnya tidak sedikit komunitas anak muda tersebut justru memilih jalan yang salah yang tanpa disadari sebenarnya mereka terjebak kedalam simpul masalah yang akan menghancurkan masa depan mereka.

Yang mampu memobilisasi anak muda akan berpeluang menguasai dunia. Pertanyaannya adalah siapakah yang mampu merangkul anak-anak muda itu ?
Banyak bukti otentik yang bisa kita lihat betapa peran anak muda menjadi katalisator. Ada partai tertentu yang menjadi besar dan berperngaruh karena didukung sebagian besar anak muda. Ada organisasi lain yang disegani bahkan ditakuti karena dukungan anak muda. Bahkan para penjahat narkoba lebih tertarik untuk merekrut anak muda menjadi garda depannya untuk memperluas jaringan peredaran narkoba walaupun tidak semua pemakai narkoba adalah anak muda. Mengapa kita menjadi khawatir kala menyaksikan sedemikian besar jumlah anak muda yang terjebak dalam jaringan bandar narkoba (misalnya), karena kita menyadari semua yang kita bangun selama ini akan hancur dalam waktu relative singkat jika para garda bangsa itu digunakan oleh pihak yang tidak pernah mau pusing memikirkan akibat yang akan ditimbulkan penggunaan narkoba itu demi keuntungan yang sangat menjanjikan.
Kita tahu keberadaan mereka dalam lingkar kesesatan diawali oleh keberhasilan para gembong kesesatan itu memahami jiwa dan kebutuhan anakmuda itu, mereka rela mengorbankan waktu,tenaga,pikiran dan uang untuk melayani semua kebutuhan anak-anak muda itu seolah-olah mereka paling mengerti apa arti kasih sayang dan perhatian walaupun sebenarnya semua yang mereka lakukan adalah sebuah kamuflase/illusi yang diprogram sedemikian rupa sampai batas dan target tertentu. Bermula dari pemahaman terhadap karakter anak muda dan kesediaan untuk memberi perhatian dan pelayanan sepenuhnya dalam waktu dan target terbatas , maka semuanya menjadi oke, jadilah mereka kurir atau jaringan.. Itulah yang sering membuat kita menjadi gusar dan marah ketika melihat sejuta generasi muda kita yang tengah mengalami masa pancaroba hidup di Negara yang morat-marit dilepas dan diabaikan sehingga ada pihak yang cerdik memanfaatkan mereka dan situasi ini untuk kepentingan diri atau kelompoknya tanpa mau perduli apapun akibatnya bagi anak-anak muda itu.

Kita harus merangkul kembali Anak Muda itu.

Yang hendak saya fokuskan dalam diskusi ini adalah, semua kita telah diberi bukti kebenaran atas peran anak muda yang sangat dahsyat itu namun kita tidak mampu merangkul mereka untuk sebuah aktivitas yang jauh lebih penting bahkan sangat menentukan nasib masa depan mereka.
Coba kita bayangkan seandainya para aktivis lingkungan (siapa saja) baik dari kalangan Pemerintah dan Nonpemerintah mampu melakukan recruitment semacam itu, siapa yang berani mencoba merusak lingkungan ini, siapa yang berani merusak hutan dsb.
Jika di sekolah-sekolah, para Bandar dan kurir narkoba mampu melihat peluang itu dan tanpa diminta mereka sudah berada disekitar pagar sekolah, setia menunggu berbagai kesempatan dan peluang untuk memanfaatkan posisi strategis para anak muda itu. Kitapun seharusnya memposisikan diri jauh lebih dekat dengan para anak muda tersebut.

Issue lingkungan adalah salah satu dari sekian banyak masalah kita, disekolah hal ini hanya tersentuh tatkala guru bidang studi Geografi memberi pelajaran (itupun kalau si Guru bersemangat untuk menghubungkan materi ajarnya dengan issue-issue penting yang tengah terjadi disekitar kita) hanya itulah mekanisme yang dilakukan untuk menopang kampanye hijau, sangat tidak efektif ditambah lagi anak-anak lebih cemas tak lulus matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia di UN ketimbang jadi korban bencana alam seperti banjir, global warming sejenisnya.

Sebagai seorang pendidik, saya terus mengikuti gerakan-gerakan kampanye hijau, dan saya tahu betapa banyak dana yang dihabiskan untuk mengangkat issue itu walaupun sebagian besar dana itu habis di hotel-hotel mewah atau balai pertemuan mewah hanya untuk sebuah seminar dan konfrensi. Yang hadir para pakar, aktivis dan sejumlah pejabat. Penyelenggaraan semacam itu memang penting tetapi akan jauh lebih bermanfaat jika dilengkapi dengan aksi riil dengan mengembangkan issue-isue lingkungan tersebut sebagai kegiatan pembelajaran aplikatif di sekolah-sekolah.. Sebagai seorang guru di sekolah pinggiran desa, dengan segala keterbatasan terkadang berpikir mengapa kita tidak memulai memfokuskan pemikiran dan tindakan kita dalam mengkader para siswa-siswi sekolah itu sebagai garda terdepan dalam penyelamatan lingkungan. Menjadikan mereka sebagai kader lingkungan akan efektif mengingat kontrak usia mereka lebih panjang (secara logika), mereka adalah korban keserakahan generasi sebelum mereka, semangat juangnya lebih kental, pemikirannya masih murni/ideal.

Di Sumatera Utara saja entah berapa organisasi yang berbasis gerakan advokasi lingkungan dan kemasyarakatan ada, tetapi hanya satu-satu (mungkinpun tidak ada) yang tertarik untuk terjun kesekolah-sekolah memberikan pendidikan dan pelatihan untuk hal-hal positif semacam ini. Mereka hanya berbicara sendiri, berargumentasi antar sesamanya, berdemo ke DPR dan seterusnya selesai. Padahal seperti yang saya utarakan diatas, para siswa-siswi itu adalah potensi yang sangat besar yang dapat dirangkul dan dikader untuk gerakan-gerakan lingkungan (atau apalah namanya) yang memberi manfaat positif bagi kelangsungan hidup manusia.

Menjadi sangat penting tatkala guru-guru bidang studi yang berhubungan dengan persoalan itu (Geografi, terutama) dijadikan fasilitator aktif untuk melakukan kaderisasi lingkungan hidup kepada anak didik tersebut. Ilmu Geografi merupakan media strategis yang dinilai mampu mengedepankan issue lingkungan tersebut kepada anak didik, tinggal bagaimana kita mampu memformulasi kegiatan pembelajaran geografi tersebut menjadi sesuatu kegiatan yang menarik dan menantang, sehingga didalam pembelajaran geografi tersebut jiwa mereka terpanggil untuk mulai bertindak secara bertahap menjaga lingkungan hidup.
Merubah Model Pendekatan
Kita harus mulai merevolusi metode/pendekatan yang salama ini teramat konvensional dalam mengedepankan issue-issue lingkungan. Model ceramah dan diskusi perlu dikombain dengan keterlibatan emosional yang cerdas berupa pemberdayaan potensi yang dimiliki masing-masing individu para siswa-siswi itu. Kegiatan aksi perlu diprogram dalam bentuk keberlanjutan sehingga tidak bersifat incidental atau sementara atau kasuistik. Program yang disusun harus dapat menembus soal keuntungan riil dalam pengelolaan lingkungan.

Daur ulang sebagai salah satu metode/pendekatan pendidikan lingkungan sangat baik untuk terus dikembangkan dalam arti mampu menjadi lapangan kerja yang produktif. Kegiatan daur ulang perlu diorganisir sedemikan rupa menjadi kegiatan yang menarik,menantang, menjanjikan secara ekonomis dan bisa memacu daya kreasi/imaginative peserta. Sekolah-sekolahpun perlu mempersiapkan fasilitas yang diperlukan untuk itu (tentunya menjadi bagian dari perencanaan pembangunan pendidikan oleh pemerintah).
Dan yang lebih penting lagi kegiatan-kegiatan ini harus mendapat apresiasi penuh dari pemerintah.
Kegiatan dengan dimensi pendidikan dan pelatihan kemahiran yang mungkin saja menjadi salah satu yang dapat membantu masalah pengangguran
Masih banyak sampah sebagai bahan baku yang belum terkelola dengan maksimal. Mungkin kegiatan lainnya masih banyak yang dapat dilakukan, misalnya kita perlu mewacanakan untuk kemudian dilaksanakan tentang pemberian semacam sertifikat hak penanam bagi setiap anak yang ikut teribat di dalam kegiatan penghijauan atau penanaman pohon didaerahnya masing-masing. Sertifikat itu berguna bagi anak untuk mendapatkan semacam royalty apabila satu saat pohon yang ia tanam itu sudah waktunya untuk dimanfaatkan secara komersial, atau paling tidak bisa dijadikan semacam tabungan pendidikan mereka selanjutnya. Artinya ini dapat dijadikan sebagai rangsangan sekaligus menciptakan system pengawasan kolektif terhadap kelangsungan hidup pohon-pohon tersebut. Bagaimanapun juga selama ini ada indikasi bahwa rakyat (pemuda) yang turut dalam kegiatan penghijauan itu tidak memiliki akses apapun terhadap wilayah yang ia hijaukan, paling hanya janji normative saja, sementara pada saatnya tiba pohon yang ia tanam justru dimanfaatkan oleh pihak lain dengan dalih milik Negara. Bayangkan saja seandainya pohon yang ditanam itu sejenis kayu Meranti atau Damar. Ya semestinya jenis pohon yang ditanam itu juga harus memiliki nilai ekonomis juga, yang perlu diawasi adalah waktu pemanfaatannya harus tepat, tepat dalam arti sudah cukup usianya, sudah ada penggantinya yang perbedaan usianya wajar. Demikian selanjutnya sampai kepada anak-anak muda itu bahkan masyarakat diberi pengetahuan dan keterampilan soal pembibitan berbagai jenis pohon dan tumbuhan agar selanjutnya kegiatan ini berkembang dan jika perlu harus berproyeksi pada penguasaan dari hulu ke hilir.

Penutup
Program pendidikan lingkungan harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Program ini tidak boleh hanya bernuansa proyek. Dan dimulai sejak dini dengan mengkader siswa-siswi di sekolah-sekolah kita. Kegiatan Lingkungan harus bisa memberi nilai tambah ekonomis masyarakat. Siswa-siswi yang dijadikan sebagai kader lingkungan itu harus bisa memiliki akses yang jelas dari pohon yang ia tanam sehingga prinsip kebergunaan akan menumbuhkan kesadaran yang kuat dalam diri mereka untuk melindungi alam raya kita ini. Masih banyak bentuk kegiatan/program yang dapat diciptakan yang dapat menarik semua orang terutama para generasi muda kita yang memiliki potensi besar itu.

MENGENAL MODEL PEMBELAJARAN


Oleh : Drs.Toto Pardamean

Pendahuluan

Model adalah sebuah pola yang secara mendasar dapat menunjukkan gambaran utuh dari sesuatu yang akan dikerjakan dan hasil yang akan dicapai. Model merupakan patron yang membimbing seseorang agar mudah mengerjakan sesuatu tugas dan tepat sasaran, tepat waktu, tepat guna dan tepat tujuan. Model secara umum dapat dimengerti oleh siapa saja karena model memang sudah mendekati hasil sebenarnya dan orang lain bias membaca seperti apa produk yang bakal dihasilkan. Dalam dunia pendidikan model pembelajaran telah lama dikenal dan dipakai di Negara-negara maju. Di Indonesia model pembelajaran oleh banyak orang hamper diidentikkan dengan metode sehingga menyebabkan pengertian model menjadi kurang jelas. Mengajar dengan Model Pembelajaran tertentu yang dikenal secara luas menjadi tuntutan zaman, apalagi jika kita kaitkan dengan banyaknya indikasi menurunnya gairah belajar siswa.
Model pembelajaran lebih terfokus pada upaya mengaktifkan siswa lebih banyak dibandingkan guru namun tetap dalam ruang lingkup pembelajaran satu tema tertentu yang jelas dapat mencapai tujuan pada saat tertentu tersebut dengan pembuktian indicator-indikator tertentu pula.

Manfaat Model Pembelajaran.
a. Bagi Guru.
- Memudahkan dalam melaksanakan tugas pembelajaran sebab telah jelas langkah-langkah yang akan ditempuh sesuai dengan waktu yang tersedia, tujuan yang hendak dicapai, kemampuan daya serap siswa, serta ketersediaan media yang ada.
- Dapat dijadikan sebagai alat untuk mendorong aktifitas siswa dalam pembelajaran.
- Memudahkan untuk melakukan analisa terhadap perilaku siswa secara personal maupun kelompok dalam waktu relative singkat
- Dapat membantu guru pengganti untuk melanjutkan pembelajaran siswa secara terarah dan memenuhi maksud dan tujuan yang sudah ditetapkan (tidak sekedar mengisi kekosongan).
- Memudahkan untuk menyusun bahan pertimbangan dasar dalam merencanakan Penelitian Tindakan Kelas dalam rangka memperbaiki atau menyempurnakan kualitas pembelajaran.
- Dll.
b. Bagi Siswa
- memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran
- memudahkan siswa untuk memahami materi pembelajaran
- mendorong semangat belajar serta ketertarikan mengikuti pembelajaran secara penuh
- dapat melihat atau membaca kemampuan pribadi dikelompoknya secara objektif
- Dll
c. Bagi Supervisor.
- dapat dijadikan bahan kajian pelaksanaan tugas guru dan merumuskan bentuk layanan bantuan supervise.
- dapat dijadikan sebagai bahan diskusi dalam mengidentifikasi masalah pengajaran dan mendeskripsikan alternative pemecahan masalah yang dapat dilakukan
Pemilihan dan Penetapan Model Pembelajaran.
Banyak macam dari model pembelajaran tersebut, namun penting untuk diperhatikan guru beberapa pertimbangan sebelum memilih, menentukan dan menetapkan satu model pembelajaran agar keputusannya tepat sesuai dengan maksud dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Hal ini mengingat bahwa Model Pembelajaran tersebut masing-masing memiliki karakteristik yang secara khas menghendaki suatu kondisi tertentu. Hal-hal yang harus dipertimbangkan itu antara lain :
a. Simak dan pahami terlebih dahulu bentuk,sifat,syarat, masing-masing Model tersebut.
b. Perhatikan alat/media yang dibutuhkan oleh Model tersebut dan perhatikan alat/media yang dapat kita sediakan.
c. Sesuaikan bahan (materi pelajaran), tujuan, alokasi waktu, waktu yang dibutuhkan dalam persiapan pelaksanaan kegiatan dengan Model yang akan dipilih.
d. Perhatikan karakteristik umum anak didik agar penggunaan Model tertentu tidak malah membingungkan atau kontraproduktif anak didik
e. Ukur juga kemampuan kita dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model tertentu ( sebab ada beberapa model pembelajaran yang membutuhkan kemampuan peranan guru, kreatif guru serta keluasan dan kedalaman pengalaman seorang guru.

Pemilihan Model pembelajaran yang akan digunakan sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan belajar siswa. Oleh karena itu maka pemilihan model pembelajaran harus dilakukan secara teliti dan benar-benar tepat agar tidak menjadi bertentangan dengan tujuan yang hendak dicapai. Harus diakui bahwa guru perlu mempelajari dan melatih diri terlebih dahulu dalam penggunaan

Beberapa Model Pembelajaran.
Ada banyak Model Pembelajaran yang dikemukakan kalangan ahli pendidikan, diantaranya yang dikenal luas dikalangan praktisi pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Example Non Exampel. (contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan KD)
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru adalah ;
- guru mempersiapkan gambar-gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
- guru menempelkan gambar tersebut di papan tulis atau ditampilkan dengan OHP
- guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan dan menganalis gambar-gambar tersebut.
- Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil analisa dari gambar tersebut dicatat di kertas
- Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya
- Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
- Kesimpulan

2. Picture and picture.
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru ;
- guru menyampaikan kompetensi yang hendak dicapai
- menyajikan materi sebagai pengantar
- guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi pelajaran
- guru memanggil/menunjuk siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
- guru menanyakan alas an/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
- dari urutan/alas an gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
- kesimpulan/rangkuman

3. Numbered Heads together (Kepala bernomor ; Spencer Kagan 1992)
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru ;
- siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam mendapat nomor
- guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
- kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/tahu jawabannya
- guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
- tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
- kesimpulan.

4. Cooperative script ( Dan sereau CS, 1985 )
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru ;
Skrip Kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian
secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang diajarkan.

- guru membagi siswa untuk berpasangan
- guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan memuat ringkasan
- guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
- pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar ; menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide yang kurang lengkap. Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan dengan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
- Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas
- Kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru
- Penutup.

5. Student Teams Achievement (STAD , Slavin 1995)
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru ;
- membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen ( campuran menurut kecerdasan, jenis kelamin, suku dll)
- guru menyajikan pelajaran
- guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang sudah mengerti dapat menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota kelompok itu mengerti semuanya
- guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
- memberi evaluasi
- kesimpulan

6. Jigsaw (Model Tim Ahli)
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru;
- siswa dikelompokkan kedalam 4 anggota tim
- tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
- tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
- anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok yang baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
- tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya
- guru memberi evaluasi
- penutup

7. Mind Mapping.
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan
alternative jawaban
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan guru ;
- guru menyampaikan kompetensi yang hendak dicapai
- guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternative jawaban
- membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
- tiap kelompok menginventaris/mencatat alternative jawaban hasil diskusi
- tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
- dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai dengan konsep yang disediakan guru.


Mengapa harus dengan Model.

Mempergunakan Model Pembelajaran bertujuan untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan pencapaian tujuan pembelajaran. Indikatornya adalah Guru dan Siswa focus pada meteri pembelajaran , Guru mudah mentransfer isi pelajaran kepada Siswa, Siswa juga mudah menangkap isi pelajaran tersebut. Waktu yang tersedia untuk satu meteri secara efesien dan efektif dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ketertarikan dan Minat Siswa dalam mengikuti Pembelajaran cenderung tinggi. Guru dan Siswa tidak mudah bosan membahas isi materi pelajaran.

Faktor Kesulitan dalam Mempergunakan Model.

Tidak seluruhnya penggunaan model ini mudah untuk dilaksanakan. Masih banyak Guru yang selama menjalani profesinya kurang memperhatikan kreativitas kerjanya. Pada hal inti dari penggunaan model pembelajaran ini adalah kemampuan analisis yang dikonversikan kedalam bentuk visualisasi dan grafis. Selalu kita temui alasan paling mudah yang dikemukakan adalah soal ketidak mampuan menggambar, ketidak mampuan bereksplorasi dengan IT dan sebagainya. Persoalan ini menjadi mudah diatasi ketika para Guru yang bermasalah dengan hal ini mau melatih diri dan tidak malu mencoba bereksplorasi. Menjadi tidak mudah jika paradigma profesi guru tidak berubah, tetap menganggap dirinya adalah sentral ilmu pengetahuan.

Solusinya Bagaimana ?

Kurikulum harus secara tegas mengarahkan tugas guru untuk melaksanakan teknis yang berwawasan aplikasi dan berbasis IT. Guru didorong untuk melatih dirinya menguasai dasar-dasar aplikasi penggunaan IT. Pemerintah harus melengkapi perlengkapan dan peralatan IT di sekolah-sekolah. Memasukkan kemampuan penggunaan dan pengembangan model pembelajaran menjadi komponen penilaian prestasi kerja guru. Kondisi kemampuan guru dibeberapa sekolah dan daerah harus didorong dengan tegas sehingga upaya Pemerintah memperbaiki kesejahteraan guru itu tidak menjadi pekerjaan sia-sia saja yang telah menghabiskan sekian banyak dana rakyat. Selama ini kita tidak dapat mengingkari bahwa ukuran guru berkemampuan masih terbatas pada soal bisa tidak guru tersebut memindahkan ilmu pengetahuannya kepada siswa dalam bentuk teori tanpa memperdulikan sedikitpun apa bentuk aplikasi dari teori yang ia ajarkan sehingga jadilah keberhasilan belajar yang semu. Mengutamakan kognitif tetapi mengabaikan sama sekali point psikomotorik dan afektif.

Penutup.

Pemanfaatan Model Pembelajaran sebagai kelengkapan kerja guru harus terus didorong sebab sudah mendesak sifatnya. Keberhasilan penggunaan Model pembelajaran sangat tergantung kemampuan guru dalam menganalisi materi pembelajaran dan kemampuan mengkreasikan materi tersebut kedalam bentuk audiovisual dan grafis. Pemanfaatan Model Pembelajaran mempersingkat tenggang waktu pencapaian sasaran dan tujuan pendidikan.

PELAKSANAAN FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN DI SEKOLAH


Oleh : Drs.Toto Pardamean

Pendahuluan.
Sekolah sebagai tempat penyelenggaraan program pendidikan dan pengajaran, pada hakekatnya diperuntukkan bagi pengembangan watak dan kepribadian manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkah laku sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kedudukan sekolah yang demikian penting itu menunjukkan bahwa sekolah mestilah terus ditingkatkan dan dikembangkan semaksimal mungkin baik secara kuantitas maupun kualitas.Peningkatan kuantitas dan kualitas itu sesungguhnya adalah tanggungjawab Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat.Di sekolah peran dan tanggungjawab Pemerintah itu diwakili oleh Kepala Sekolah dan guru serta pegawai dan masyarakat diwakili oleh para orangtua/wali murid dan masyarakat lingkungan sekitar sekolah.Keberhasilan sekolah dalam mencapai misi dan visinya sangat dipengaruhi oleh synergi diantara komponen Pemerintah dan Masyarakat itu.Synergi artinya adalah masing-masing komponen yang bertanggungjawab atas program pendidikan tersebut dapat melaksanakan fungsi/tugasnya/kewajibannya masing-masing dengan baik saling mendukung dan melengkapi dan tertuju pada pencapaian misi dan visi sekolah.

Manajemen Sekolah.
Sekolah adalah sebuah lembaga, didalamnya terdapat sejumlah orang-orang yang berfungsi sebagai pelaksana berbagai kegiatan pendidikan. Sejumlah orang yang bekerja dan adanya tujuan yang hendak dicapai dan telah menjadi suatu ketetapan, memerlukan seorang Pemimpin agar semua kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan mencapai tujuan sebagaimana diharapkan. Hadari Nawawi mengemukakan :

"Dilingkungan dunia pendidikan banyak ditemui usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan tertentu yang disepakati bersama.Salah satu bentuk kerjasama itu diselenggarakan berupa lembaga pendidikan formal yang bersifat sengaja,berencana dan sistematis.Untuk keperluan itu pada setiap lembaga pendidikan formal terdapat seorang pimpinan dengan atau tanpa pembantu.Pimpinan itu biasanya diangkat oleh badan yang lebih tinggi dengan kedudukan sebagai Kepala".

Pemimpin di sekolah adalah Kepala sekolah,tugas pokoknya adalah menggerakkan seluruh sumber daya manusia yang ada di sekolah, memaksimalkan penggunaan semua fasilitas yang dimiliki dalam rangka menjamin tercapainya tujuan pendidikan di sekolah yang ia pimpin. Sebagai pemimpin sebuah
lembaga maka ia harus memiliki kelengkapan kemampuan dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen sebab pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen itu merupakan salah satu tanggungjawabnya.Dalam hal ini Sondang P.Siagaian menyatakan sebagai berikut :

"Para eksekutif itulah yang bertanggungjawab atas terselenggaranya samua fungsi-fungsi organik manajemen mulai dari perencanaan,penyusunan program kerja , pengorganisasian , penggerakan tenaga manusia,memimpin kegiatan pelaksanaan,melakukan pengendalian dan pengawasan dan demikian pula dengan penilaian dan pemanfaatan sistem umpan balik yang berlaku dalam organisasi". ...Siagian,Sondang P.

Selanjutnya oleh Soewadji Lazaruth dikatakan :

"Kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan yang mempunyai peranan
sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah. Berkembangnya semangat kerja, kerjasama yang harmonis,minat terhadap perkembangan pendidikan,suasana kerja yang menyenangkan dan mutu profesional diantara para guru banyak ditentukan Kepala sekolah dengan kualitas kepemimpinannya. Kepala sekolah harus mampu membangkitkan semangat kerja yang tinggi.Ia harus mampu mengembangkan staf untuk bertumbuh dalam kepemimpinannya.Ini berarti ia harus mampu membagi wewenang dalam pengambilan keputusan,sebab banyaklah tanggungjawab yang harus dilaksanakannya.Agar tugas-tugas ini berhasil baik ia perlu memperlengkapi diri baik perlengkapan pribadi maupun perlengkapan profesi".

Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen pada prinsipnya sama dilembaga manapun hal itu dilakukan, perbedaannya hanyalah terletak pada penerapannya,menyangkut luas ruang lingkup dan kebutuhan masing-masing. Berkaitan dengan ini kita perlu menyimak apa yang dikemukakan oleh T.Hani Handoko sebagai berikut :

"Fungsi-fungsi manajemen tersebut adalah universal.Sifat ini merupakan hasil kenyataan bahwa fungsi-fungsi manajemen adalah sama dimana saja, dalam seluruh organisasi dan pada waktu kapan saja.Fungsi-fungsi manajemen ini sama untuk perusahaan-perusahaan besar,kecil ataupun
multi nasional,organisasi-organisasi kemasyarakatan,kelompok-kelompok hobbi dan sebagainya. Walaupun mungkin diterapkan secara berbeda oleh
manajer-manajer yang berbeda pula".

Berbagai ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda tentang fungsi manajemen itu. Hal ini wajar dan dapat diterima mengingat latar belakang pengalaman dan situasi yang mereka alami juga berbeda.Namun tetap saja secara prinsip seluruh pendapat itu tertuju pada satu titik yang sama. Tujuan dari pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen itu tidak lain adalah untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari suatu pekerjaan melalui orang lain yang bekerja secara rela dan prnuh tanggungjawab. Dalam ha ini Hadari Nawawi menyatakan :

"Kegiatan manajemen administratif yang meliputi perencanaan pengorganisasian,pengarahan,koordinasi,kontrol dan komunikasi harus diwujudkan secara terpadu,sehingga sebagai sub sistem yang merupakan fungsi primer akan berdaya guna secara optimal bagi keseluruhan proses
administrasi sebagai total sistem.Keterpaduan ini akan terwujud bilamana seorang administrator berusaha mendayagunakan dan memberikan peran
serta pada setiap personal di lingkungan organisasi kerjanya,sesuai dengan
posisi dan kedudukannya masing-masing ”.

Berdasarkan pernyataan tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan pendayagunaan fungsi-fungsi manajemen itu maka akan semakin nyatalah keterlibatan seluruh anggota organisasi/lembaga dalam memainkan peranannya masing-masing secara tepat dan berhasil guna. Ketepatan peranan yang dimainkan oleh masing-masing personal tersebut akan menimbulkan rasa tanggungjawab yang dicerminkan oleh rasa memiliki (sense of belonging) terhadap organisasi/lembaga kerja (sekolah). Dan perasaan ikut memiliki itu akan menumbuhkan pula sikap bertanggngjawab secara nyata (sense of responsibility). Kedua pencerminan sikap itu memungkinan terlaksananya seluruh beban kerja sehingga mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran sebagaimana mestinya.James Menzies Black menyebutkan sebagai berikut :

"Mendapatkan hasil yang diinginkan dengan mengorganisasikan dan membimbing daya upaya orang lain memerlukan keterampilan dalam perencanaan dan kepemimpinan. Seberapa jauh berhasilnya seorang manajer dalam meningkatkan jenjang karir di dala organisasi tergantung dari kemampuan memperluas bakatnya dalam mengarhkan bawahan.Karena itu ia harus selalu berusaha meningkatkan efektivitasnya dalam menggunakan peralatan manajer ; perencanaan ,pengorganisasian pengarahan dan tindak lanjutnya karena semakin banyak orang yang dikendalikan,fungsi-fungsi manajemen ini semakin penting dan rumit".

Apa yang dikemukakan oleh beberapa ahli yang penulis kutip di atas setidak-tidaknya telah menggambarkan apa yang semestinya dilakukan oleh Kepala sekoah didalam ruang lingkup peranannya sebagai manajer itu. Namun harus diakui bahwa untuk melihat kedudukan Kepala sekolah sebagai manajer sebagaimana mestinya agak sukar dilakukan karena secara operasional Kepala sekolah banyak dihadapkan dengan ketentuan-ketentuan prosedural birokrasi yang mempersempit ruang geraknya. Sehubungan dengan itu Joan Dean mengatakan sebagai berikut :

"The word manager used in the context of educatioan is comparatively new.Yet in many ways it is descriptive of whats is involved.Good management involves working with people and resources as they are and helping them to work together to achieve agreed ends"

Dari ungkapan Joan Dean tersebut ditarik pengertian bahwa didalam konteks pendidikan perkataan manajer itu masih baru, tetapi dalam banyak cara ia merupakan mendiskripsikan apa yang terlihat.Manajemen yang baik itu melibatkan pekerjaan dengan orang-orang dan sumber-sumber sebagaimana adanya dan membantu mereka untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan akhir yang telah disepakati. Dari uraian yang telah dikemukakan di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen itu ada beberapa tekanan yang menjadi perhatian paling utama yakni :
- manajemen selalu diterapkan dalam hubungannya dengan suatu kelompok orang yang bekerjasama.
- ada tujuan tertentu yang hendak dicapai.Dan didalam manajemen tersebut terjadi serangkaian kegiatan utama yang memerlukan keterampilan-keterampilan berdasarkan pengetahuan tertentu dan mengandung seni mengelola dari setiap orang yang melakukannya.
Fungsi-fungsi manajemen haruslah dilaksanakan secara serempak, terpadu pada keadaan yang sama artinya tidak dipisahkan antara satu fungsi dengan fungsi lainnya.Fungsi-fungsi manajemen yang dimaksudkan disini adalah fungsi Pengorganisasian yang meliputi ;
- Pembagian Kerja
- Analisa Jabatan
- Spesialisasi Pekerjaan
- Pemberian/pendelegasian wewenang

Fungsi Pengorganisasian.

Sama halnya seperti manajemen maka pengorganisasian pun diartikan oleh para ahli secara berbeda-beda. H.Koontz dan O'Donnell mengemukakan :

"Pengorganisasian berhubungan dengan pengaturan struktur melalui penentuan kegiatan untuk mencapai tujuan dari pada suatu badan usaha/organisasi secara keseluruhan atau setiap bagiannya. Pengelompokan kegiatan-kegiatannya,penugasan,pelimpahan wewenang untuk melaksanakan pekerjaan,menentukan koordinasi kewenangan dan hubungan informasi baik horizontal maupun vertikal dalam struktur organisasi itu.Struktur organisasi bukan tujuan tetapi suatu alat dalam menyelesaikan tujuan badan usaha/organisasi.Struktur ini harus sesuai dengan tugas, yang menggambarkan pembatasan-pembatasan atau persetujuan-persetujuan yang telah diletakkan oleh pimpinan terhadap seseorang yang bekerja dalam organisasi atau badan usaha itu".

Dengan pengertian semacam itu dipastikan bahwa Kepala sekolah dengan sejumlah tugas dan tanggungjawabnya tidak mungkin dapat menyelesaikannya tanpa keterlibatan orang-orang disekitarnya. Dia harus mendistribusikan sebagian tugasnya (dalam batas-batas memungkinkan) kepada para bawahannya.Hal tersebut dimaksdukan agar tidak satupun pekerjaan tertinggal atau tidak dikerjakan.Dalam kaitan ini U.Husna Asmara berpendapat :

"Setiap usaha kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tidak mungkin dilaksanakan sendiri oleh pimpinan,terutama karena
terbatasnya kemampuan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan yang
banyak dan terbatasnya kemampuan waktu serta tempat. Oleh karena itu
pekerjaan yang harus diselesaikan harus dibagi-bagikan termasuk
bahan,alat dan personal.Kegiatan pembagian atau pengelompokan tugas dan personal serta tanggungjawabnya termasuk pengirganisasian".

Perlu diperhatikan oleh seorang Kepala sekolah dalam melakukan fungsi ini, ia harus bisa memahami tugas-tugas apa saja yang harus dibagi,bentuk kegiatannya yang harus dilaksanakan masing-masing bidang tugas,tujuan serta syarat-syarat pokok pelaksana yang dapat melaksanakan tugas tersebut. Pengelompokan tugas tidak boleh memisahkan satu bidang pekerjaan dengan bidang lainnya sehingga menjadi berdiri sendiri-sendiri tetapi pengelompokan yang dimaksud disini hanya terbatas pada masalah efektivitas pelaksanaan tugas namun tetap mengarah pada tujuan yang sama.Pengorganisasian adalah pengelompokan bidang kerja dari yang bersifat umum menjadi bagian-bagian khusus yang lebih mudah dipahami dan dikerjakan.Dari yang bersifat rumit menjadi lebih praktis atau dengan kata lain pengorganisasian itu menerjemahkan tujuan umum menjadi tujuan khusus yang mempermudah pencapaian tujuan idealnya. Geoge R.Terry berpendapat :

"Pengorganisasian adalah menentukan,mengelompokkan dan pengaturan berbagai kegiatan yang dianggap perlu untuk pencapaian tujuan penugasan
orang-orang dalam kegiatan-kegiatan ini,dengan menetapkan faktor-faktor
lingkungan fisik yang sesuai,dan menunjukkan hubungan kewenangan
yang dilimpahkan terhadap setiap individu yang ditugaskan untuk
melaksanakan kegiatan tersebut".

Apa yang dikemukakan oleh Ernest Dale berikut ini mungkin dapat mempermudah kita dalam memahami pengertian pengorganisasian secara substansial :

"Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal,mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota organisasi,agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efsien.Proses pengorganisasian dapat ditunjukkan dengan tiga langkah prosedur berikut ini :
1.Pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai
tujuan organisasi
2.Pembagian beban kerja total menjadi kegiatan-kegiatan yang secara
logik dapat dilaksanakan oleh satu orang.Pembagian kerja sebaiknya
tidak terlalu berat sehingga tidak dapat diselesaikan,atau terlalu ringan
sehingga ada waktu menganggur,tidak efisien dan terjadi biaya yang
tidak perlu.
3.Pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk
mengkordinasikan pekerjaan para anggota organisasi menjadi kesatuan
yang terpadu dan harmonis.Mekanisme pengkoordinasian ini akan
membuat para anggota organisasi menjaga perhatiannya pada tujuan
organisasi dan mengurangi ketidak efisienan dan konflik-konflik yang
merusak".

Pengorganisasi ini tidak hanya sekedar mendistribusikan beban tugas dalam mengajar kepada guru seperti yang selama ini dilaksanakan di sekolah-sekolah yang kurang maju.Pengorganisasi tidak hanya sekedar membagi kedudukan tanpa jelas tolak ukur keberhasilan pelaksanaan dari tugas yang telah didelegasikan. Pengorganisasian meliputi semua tugas yang ada dan dalam hal ini dimulai dari penafsiran yang sama atas tujuan yang hendak dicapai sehingga membantu memformulasikannya kedalam berbagai bidang dan menjelaskan siapa yang bertanggungjawab dalam pelaksanaannya.Selama ini pengorganisasian diterjemahkan dalam pengertian yang sangat sederhana dan tidak substansial.Pengorganisasian hanya sekedar membagi jam mengajar,memilih wali kelas,wakil Kepala sekolah tanpa diikuti oleh fungsi-fungsi lainnya, sehingga masing-masing pelaksana yang ditunjuk tidak memiliki program yang berwawasan.

Pembagian Kerja.
Pembagian kerja merupakan komponen pokok didalam fungsi pengorganisasian.Pembagian kerja adalah tindakan manajemen setelah dilakukan kajian menyeluruh tentang tujuan yang hendak dicapai satu oeganisasi/lembaga/sekolah, besarnya beban kerja yang akan dilaksanakan,kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki,personal yang tersedia dab hal-hal lain yang berkaitan.Pembagian kerja harus mempertimbangkan jenis pekerjaan,volume pekerjaan,sifat pekerjaan. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penyelesaian pekerjaan dan pencapaian tujuan dari masing-masing pekerjaan. Menurut U.Husna Asmara pembagian kerja ini adalah :

"Agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan efisien maka pimpinan harus mengadakan pembagian kerja.Dalam mengadakan pembagian kerja pimpinan hendaknya memperhatikan waktu yang membatasi,beban tugas yang diberikan untuk tiap-tiap kelompok kerja
serta kesesuaian jenis,sifat dari pekerjaan yang mesti diselesaikan".

Menurut T.Hani Handoko pembagian bidang kerja itu adalah :

"Tujuan suatu organisasi adalah untuk mencapai tujuan dimana individu-individu tidak dapat mencapainya sendiri.Kelompok dua atau lebih orang
yang bekerjasama secara kooperatif dan dikoordinasikan dapat mencapai
hasil lebih dari pada dilakukan perseorangan.Konsep ini disebut
synergi. Tiang dasar pengorganisasian adalah prinsip pembagian kerja
(division of labour) yang membangkitkan synergi itu terjadi".

Jika pembagian kerja ini dilakukan dengan baik paling tidak akan bisa menghindarkan akibat seperti kejenuhan kerja,kelelahan kerja (karena overdosis/beban kerja terlalu berat),kemanjaan dan ketidak pedulian (karena ringannya beban kerja) yang selanjutnya akan menghasilkan penurunan drastis synergi.Untuk hal ini James Menzies Black mengatakan :

"Setiap bawahan yang menganggap pekerjaannya membosankan mungkin mencari pemenuhan diri (self fulfillment) dalam kegiatan-kegiatan lain,
dan beberapa diantaranya dapat menjadi gangguan besar bagi harmonisasi dukungan personal".

Pembagian kerja akan menghasilkan struktur organisasi sekolah dn bagan organisasi sekolah.Didalamnya akan tergambar mekanisme kerja,fungsi-fungsi kelompok kerja,alur wewenang dan tanggungjawab serta tingkatan hirarki manajemen atau penanggungjawab bidang dan pelaksana kegiatan tertentu.Struktur organisasi sifatnya fleksibel dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan pada situasi dan kondisi tertentu.Pengembangan struktur organisasi yang dilakukan hendaknya paling tidak bisa memenuhi 5 persyaratan sebagaimana yang dikemukakan oleh T.Hani Handoko :

"1.Pembagian kerja.Setiap kotak menunjukkan individu atau satuan
organisasi mana yang bertanggungjawab untuk kegiatan organisasi
tertentu,dan tingkat spesialisasi yang digunakan.
2.Manajer dan bawahan atau rantai perintah.Rantai perintah menunjukkan
hubungan atasan dan bawahan dalam keseluruhan organisasi.Aliran ini
dimulai dari jenjang organisasi yang tertinggi sampai bawahan terendah dalam organisasi.Oleh karena itu setiap anggota organisasi mempunyai suatu kaitan dengan manajer puncak organisasi.Dalam hal ini prinsip kesatuan perintah harus jelas, dimana setiap anggota menerima tugas dan pemindahan/pelimpahan wewenang hanya dari seorng manajer dan melaporkan pertanggungjawaban juga hanya kepada seorang manajer.
3.Tipe pekerjaan yang dilaksanakan, label dan skripsi pada tiap kotak
menunjukkan pekerjaan organisasional atau bidang tanggungjawab
berbeda.
4.Pengelompokan segmen-segmen pkerjaan.Keseluruhan bagan
menunjukkan atas dasar apa kegiatan-kegiatan organisasi dibagi atas
dasar fungsional atau divisional,atau lainnya (departementalisasi)

Analisa Jabatan.
Setelah pembagian kerja diselesaikan oleh Kepala sekolah maka tahapan berikutnya yang harus dilakukan adalah menganalisis jabatan. Yaitu persyaratan minimal yang harus dimiiki personal yang dipilih sebagai penanggungjawab pelaksanaan bidang-bidang pekerjaan tersebut dan siapa yang memenuhi kriteria tersebut. Komponen-komponen suatu pekerjaan harus dipelajari secara kritis baik secara terpisah atau terintegrasi agar mempermudah dalam penetapan kriteria orang yang akan dipilih untuk menanganinya.U Husna Asmara berpendapat tentang hal ini sebagai berikut :

"Analisa jabatan itu proses dengan meneliti dan mempelajari secara kritis komponen-komponen pekerjaan, baik secara terpisah maupun secara
berhubungan dalam keseluruhan pekerjaan guna menentukan segala jenis
tugas-tugas dalam jabatan itu".

Selanjutnya beliau menyebutkan hasil analisa jabatan itu hendaknya :

"a.Analisa jabatan hendaknya dapat memberikan informasi berupa fakta dan
kegiatan yang berhubungan dengan jabatan.
b.Hasil analisa jabatan berupa fakta dapat diperlukan untuk bermacam-macam
tujuan yang ada di organisasi.Dengan demikian fakta yang satu akan
menunjang kegiatan yang lain dalam usaha mencapai tujuan.
c.Untuk penyempurnaan maka analisa jabatan yang sudah dilakukan perlu
ditinjau kembali untuk perbaikan-perbaikan.
d.Analisa jabatan hendaknya dapat membedakan bobot tugas masing
masing dalam organisasi.Dengan demikian tugas yang lebih penting dan
tugas yang biasa dapat segera diketahui.
e.Analisa jabatan hendaknya dapat memberikan informasi yang tepat
berupa data yang lengkap dan dipercaya".

Semenatara itu Moekijat menyebutkan analisa jabatan itu adalah :

"Analisa jabatan adalah suatu prosedur melalui mana fakta-fakta yang
berhubungan dengan masing-masing jabatan diperoleh atau dikumpulkan dan dicatat secara sistematis.Analisa jabatan menyelidiki tugas-tugas,proses-proses,tanggungjawab-tanggungjawab,kondisi-kondisi kerja,dan syarat-syarat mengenai orangnya untuk melakukan jabatan itu dengan sebaik-baiknya".

Dari analisa jabatan yang dilakukan itu akan dihasilkan gambaran jabatan yang menyangkut :
a.apa yang akan dilakukan
b.tanggungjawab-tanggungjawab yang diminta
c.kecakapan atau latihan/pendidikan yang diperlukan
d.kondisi-kondisi, dibawah mana jabatan itu dilakukan
e.macam atau kualitas orang yang diperlukan untuk jabatan tertentu.

Seluruh catatan-catatan mengenai hasil analisa jabatan itu perlu untuk diberi penjelasan kepada setiap personal yang akan memangkunya walaupun Kepala sekolah telah menemukan personal yang tepat untuk sesuatu jabatan. Apakah itu untuk jabatan wakil kepala,wali kelas,ketua jurusan atau kepala-kepala sub bagian/unit keja lainnya.Analisa jabatan tersebut juga dapat dipergunakan sebagai pedoman dasar dalam melakukan penilaian terhadap sesuatu jabatan apabila terjadi kegagalan dalam menyelesaikan prosedur kerja yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan hasil analisa jabatan itu dimungkinkan gairah kerja setiap individu (personal sekolah) akan meningkat karea mereka telah memahami tugas-tugas dan tanggungjawab apa saja yang harus mereka penuhi. Untuk masalah gairah dan semangat kerja ini kita perlu memperhatikan apa yang dikemukakan oleh Oteng Soetisna berikut ini :

"Kita telah paham betapa pentingnya perasaan tumbuh dalam kekuatan dan kesanggupan bagi semangat,kegairahan dan prduktivitas bekerja.Juga
kita telah maklum bahwa berhasil atau gagalnya konsep-konsep dan
rencana yang telah dibangun itu akhirnya ditentukan oleh orang-orang
pelaksananya.The man be hind the gun,betapapun indahnya tujuan-tujuan
dan baiknya rencana-rencana tanpa pelaksana-pelaksana yang cakap dan
penuh dedikasi,yang mampu menjalankan dengancerdas dan
bertanggungjawab,tidak akan mempunyai arti apa-apapun".


Spesialisasi Pekerjaan.
Pekerjaan yang terlalu banyak dan menumpuk pada satu jabatan besar kemungkinan mengandung resiko tidak terselesaikannya pekerjaan tersebut.Pelaksananya menjadi tidak fokus,bingung dan cepat lelah dan bosan.Demikian juga jenis pekerjaan yang harus ditangani oleh satu bidang akan mendorong pelaksanaan pekerjaan apa adanya, tidak mementingkan kualitas pekerjaannya. Spesialisasi pekerjaan dimaksudkan untuk memfokuskan satu bidang pada beberapa jenis pekerjaan saja yang secara khas merupakan bagian penting dari tugas pokok yang harus dilaksanakan bidang tersebut. U.Husna Asmara menyebut spesialisasi pekerjaan sebagai berikut :

"Dalam teori kerja spesialisasi dihubungkan dengan gejala psikologis yang disebut motivasi.Spesialisasi atau perbandingan kerja dan orang yang melaksanakannya,dapat mendorong personal lebih giat mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan minatnya.Para personal dapat mengetahui dan
memahaminya dengan jelas tugas yang dibebankan kepadanya sehingga
keraguan untuk menjalankan tugasnya dapat dihindari".


Kita juga harus memahami untuk urusan spesialisasi pekerjaan ini seorang Kepala sekolah juga menemui kesulitan, tetapi bukan berarti spesialisasi pekerjaan ini tidak dapat dilaksanakan apalagi mengingat sekarang ini berbagai kemajuan teknolgi memberi peluang sangat besar bagi siapa saja yang ingin memperoleh berbagai informasi yang berguna untuk membantu pelaksanaan tugas-tugas yang sedang mereka emban.Jika spesialisasi tidak dapat dilakukan secara ideal maka paling tidak kukhususan konsentrasi bidang pekerjaan itu dengan menampatkan orang-orang yang berdedikasi tinggi akan membantu kelemahan-kelemahan tertentu sebagaimana tuntutan idealnya.Ada prinsip yang mesti ditaati kepala sekolah dalam melaksanakan spesialisasi pekerjaan ini ialah tidak ada alasan spesialisasi pekerjaan dilakukan atas dasar pemerataan jabatan atau pekerjaan saja atau bagi-bagi jabatan. Spesialisasi pekerjaan itu ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan pekerjaan sebagaimana dikemukakan oleh Sondang P Siagian sebagai berikut :

"Kenyataan yang terdapat dalam kehidupan organisasi formal menunjukkan semakin meningkatnya spesialisasi pengetahuan yang
diperlukan dalam menjalankan roda organisasi dengan tingkat efisiensi,efektivitas yang semakin tinggi".

Pemberian/Delegasi wewenang.
Penempatan seseorang dalam satu bidang pekerjaan harus diserta dengan penyerahan sebagian wewenang Kepala sekolah kepada masing-masing pelaksana bidang yang telah dilakukan sebelumnya.Kepada mereka harus diberikan informasi mengenai batas-batas wewenang dan tanggungjawab masing-masing personal sesuai dengan beban kerja,jenis pekerjaan,luas atau sempitnya ruang lingkup pekerjaan yang dipegang itu. Dengan pendelegasian wewenang itu, para pelaksana operasional itu akan memiliki pijakan yang kuat dan pasti dalam melaksanakan tugasnya tidak lebih banyak dihantui sikap ragu-ragu dalam pengambilan keputusan tertentu sesuai yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas mereka itu.James Menzies Black mengatakan pendelegasian wewenang itu seperti berikut :

"Pendelegasian wewenang adalah satu tindakan yang memisahkan manajer dari pelaku.Inilah satu-satunya metode bagi seseorang untuk
dapat mengarahkan/mengkoordinasikan pekerjaan dari banyak orang.Pendelegasian juga merupakan satu-satunya alat bagi seorang manajer untuk dapat memperluas wilayah tindakannya dan memperbaiki kemampuan pemberian layanan supervisi".

Kasus yang selama ini terjadi di banyak sekolah adalah pembagian kerja itu tidak dibarengi penyerahan wewenang sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sehingga bidang pekerjaan yang telah ditetapkan itu manjadi tidak berkembang dan kurang mendukung kemajuan sekolah.Beberapa point yang dapat diperoleh oleh Kepala sekolah bila ia melakukan pendelegasian wewenang itu diantaranya adalah ;
1.Pendelegasian wewenang memungkinkan manajer (Kepala sekolah) dapat mencapai lebih dari bila ia mengerjakan semuanya dengan sendiri.Delegasi wewenang dari atasan kepada bawahan merupakan proses yang diperlukan dalam meningkatkan efisiensi penyelesaian seluruh tugas-tugas.
2.Delegasi wewenang memungkinkan manajer (Kepala sekolah) memusatkan tenaganya pada tugas-tugas prioritas yang lebih penting.
3.Delegasi wewenang memungkinkan bawahan (guru,pegawai) untuk tumbuh dan berkembang bahkan dapat digunakan sebagai alat untuk belajar dari kesalahan.
4.Delegasi wewenang dibuthkan karena manajer tidak selalu mempunyai pengetahuan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan. Mereka mungkin menguasai "the big picture" tetapi tidak cukup terperinci. Oteng Sutisna mengemukakan :

"Kewenangan adalah faktor yang menentukan perbuatan anggota organisasi, jelas semua anggota organisasi harusmemiliki sebagian dari kewenangan itu dan harus mengetahui dimana kewenangan itu ditempatkan didalam organisasi.Jika kewenangan itu tidak ditempatkan dan diserahkan dengan tegas, maka hampir setiap orang bisa menuntutnya dan memakainya. Atau ia bisa menjadi potensi yang tak berguna karena tidak dimanfaatkan".

Selanjutnya Sondang P Siagian mengemukakan :

"Betapapun seorang eksekutif berusaha untuk melakukan tugasnya,dapat dipastikan bahwa ia tidak akan mampu melakukan semua tugas tersebut
sendirian.Bahkan semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi,ia
semakin memerlukan bantuan semakin banyak pihak meskipun pada
analisa terakhir,tanggungjawab untuk mengambil keputusan dalam
mengemudikan organisasi terletak dipundaknya seorang. Hal ini
merupakan kenyataan pada semua bentuk dan jenis organisasi.Oleh karena
itu salah satu ciri yang perlu dimiliki oleh seorang eksekutif adalah
keberaniannya untuk mendelegasikan wewenangnya sebagian kepada
para eksekutif yang lebih rendah tingkat kedudukannya dan jabatannya dalam organisasi".

Bagaimanakah mendelegasikan wewenang itu secara efektif ? Louis Allen menyebutkan tehnik-tehniknya sebagai berikut :

"1.Tetapkan tujuan.Bawahan harus diberitahu maksud dan pentingnya
tugas-tugas yang didelegasikan kepadanya.
2.Tegaskan tanggungjawab dan wewenang.Bawahan harus diberi
informasi dengan jelas tentang apa yang mereka harus
pertanggungjawabkan dan bagian dari sumber daya-sumber daya
organisasi maa yang ditempatkan di bawah wewenangnya.
3.berikan motivasi kepada bawahan.Manajer dapat mendorong bawahan
melalui perhatian pada kebutuhan dan tujuan mereka yang sensitif.
4.Meminta penyelesaian kerja. Manajer memberikan pedoman,bantuan
dan informasi kepada bawahan,sedangkan para bawahan harus
melaksanakan pekerjaan sesungguhnya yang telah didelegasikan.
5.Berikan latihan.Manajer perlu mengarahkan bawahan untuk
mengembangkan pelaksanaan kerjanya.
6.Adakan pengawasan yang memadai.Sistem pengawasan yang
terpercaya (seperti laporan mingguan) dibuat agar manajer tidak perlu
menghabiskan waktunya dengan memeriksa pekerjaan bawahan terus
menerus".

Mengapa beberapa manajer (Kepala sekolah) tidak tegas dalam mendelegasikan wewenang tersebut ? T.Hani Handoko menyebutkan sebagai berikut :

"1.Manajer merasa lebih bila mereka tetap mempertahankan hak
pembuatan keputusan.
2.Manajer tidak bersedia menghadapi resiko bahwa bawahan akan
melaksanakan wewenangnya dengan salah atau gagal.
3.Manajer tidak atau kurang mempunyai kepercayaan akan kemampuan
bawahannya.
4.Manajer merasa bahwa bawahan lebih senang tidak mempunyai hak
pembuatan keputusan yang lebih luas.
5.Manajer takut bahwa bawahan akan melaksanakan tugasnya dengan
efektif sehingga posisinya terancam.
6.Atau manajer tidak mempunyai kemampuan manajerial untuk
mendelegasikan tugasnya".

Jadi intinya adalah sebagai manajer seorang Kepala Sekolah mestinya melengkapi kepemimpinannya dengan berbagai kemampuan manejerial lainnya sebagai antisipasi terhadap kemungkinan buruk jika wewenang yang didelegasikannya gagal. Kekhawatiran seorang kepala sekolah terhadap kemungkinan kegagalan bawahannya yang diberi wewenang sehingga mengambil jalan pintas dengan mengerjakan sendiri semua pekerjaan adalah langkah ceroboh dan bisa berakibat lebih fatal dari kemungkinan gagal yang dilakukan bawahannya.Menjadi kewajiban seorang manajer untuk bisa mengarahkan,menumbuhkan keyakinan diri bawahannya untuk mampu melaksanakan tugas-tugas yang sudah didelegasikan.Sikap profesional seorang kepala sekolah adalah keberaniannya dalam menyerahkan sebagian wewenangnya dan sudah mempersiapkan segala sesuatu sebelum bawahannya tersebut gagal. Disitu aspek kepemimpinan seorang Kepala sekolah ditantang, berhasil atau tidakkah ia membangun kualitas para bawahannya. Tidak sedikit contoh para manajer yang tidak berlatar belakang pendidikan khusus manajemen berhasil dengan dukungan bawahan yang sangat profesional dalam bidangnya, semua itu karena kelihaian sang manajer dalam memainkan seni-seni manajemen itu.

Penutup.
Jabatan Kepala sekolah adalah jabatan profesional.Jabatan itu menjadi semakin penting dan strategis jika kita hubungkan dengan arah perbaikan dunia pendidikan kita sekarang ini. Adanya niat untuk memperluas otoritas sekolah dalam menata dirinya secara otomatis menuntut profesionalitas jabatan Kepala sekolah.Persoalannya sekarang adalah bagaimana Kepala sekolah maupun calon Kepala sekolah bisa mengerti tentang tuntutan profesionalitasnya sebagai manajer di sekolah yang juga harus mapan dalam memainkan fungsi-fungsi manajemen dalam mengelola sekolah yang ia pimpin. Kita melihat demikian banyaknya Kepala sekolah yang melaksanakan tugasnya sama sekali tidak menyentuh persoalan manajemen. Mereka masih saja menjadikan perintah atasan sebagai alasan tidak memainkan perannya sebagai manajer yang semestinya ialah yang apling tahu tentang sekolah yang dipimpinnya. Perkembangan dan perubahan perilaku Kepala sekolah sebagai Manajer pendidikan/Administrator mesti terus didorong untuk memajukan pendidikan kita ditingkat sekolah-sekolah. Kepada Pemerintahpun kita harus terus mendorong agar lebih banyak melepaskan wewenangnya yang didelegasikan kepada sekolah agar lebih apresiatif. Kepala sekolah tidak boleh terganggu menjalankan tugasnya dengan banyaknya larangan-larangan yang tidak bersifat substansial sehingga peran dan fungsinya sebagai manajer bisa lebih menonjol dari pada sekedar pengawas.

WAJAH PARTAI POLITIK NASIONAL


Oleh : Drs.Toto Pardamean

Kita sangat yakin bahwa sebagian besar rakyat telah mampu membaca arah politik yang tengah dibangun oleh partai-partai sekarang ini. Dan kita yakin sebagian besar rakyat telah memilki ketahanan sikap politik yang diyakininya. Apapun argumentasi partai dan tokoh yang didengungkan sekarang ini tentu saja tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap pemikiran rakyat yang semakin cerdas dan sederhana itu. PDIP dengan ketokohan Megawati Sukarno Putri telah dikenal rakyat dan sudah juga diuji. Yusuf Kalla yang sedang menegakkan kewibawaan Golkarnya juga sudah dikenal dan diuji. Mega dan Kalla masing-masing telah diberi point oleh rakyat lewat Pemilu terlepas dari soal curang (yang sedang dijadikan sebagai akumulasi rasa kekecewaan itu). Rakernas atau apapun namanya itu memang bagian hidup sebuah organisasi, tetapi sandiwara besar itu jelas mempertontonkan betapa lebih bodohnya para pemain politik itu jika dibandingkan dengan rakyat sebagai pemilih.

Soal SBY adalah soal pilihan yang sukar untuk dihindarkan, sebab tidak ada pilihan lain. Soal yang menjadikan SBY menjadi pilihan akhir dari sebagian rakyat yang telah mengkalkulasikan kemenangan Demokrat adalah soal sopan santun dan kerendahan hati seorang SBY atau oleh lawan politiknya disebut politik pencitraan itu. Tentu penilaian atau argumentasi sebagian rakyat yang memilih SBY harus diapresiasi.Dan memang ditengah akumulasi masalah yang tengah dihadapi rakyat sekarang ini,ternyata mereka memerlukan satu pemimpin yang paling tidak dapat menyejukkan dan menetralisir emosional mereka. Paling tidak bisa dikatakan kultur sebagian rakyat yang tidak suka dengan cara-cara kasar, cara-cara emosional, cara-cara provokasi masih banyak jumlahnya dan berpengaruh dalam menentukan sikapnya.

Apa yang diperoleh oleh partai-partai yang lahir dari jaman orde baru tidak lebih hanya sekedar masih adanya pemilih tradisional yang irrasional. Pertarungan politik yang sesungguhnya lebih menarik terjadi pada partai-partai yang lahir dijaman reformasi. Disanalah rakyat memfokuskan analisanya sebelum memutuskan pilihan. Partai-partai era reformasi itu diuji dengan materi yang jauh lebih sulit oleh rakyat. Semua dipertanyakan mulai dari pemimpinnya,massanya,programnya,karakteristiknya,gaya dan wataknya,janjinya dsb. Jika disederhanakan dari sekian banyak partai-partai baru tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan besar, yang konservatif dan modern. Yang konservatif memilih pendekatannya dengan cara orator (menggebu-gebu),dogmatis,agitatif,mengumbar janji dan mengangkat nostalgia lama,berusaha membangkitkan emosional calon pemilihnya. Yang modern lebih memilih pendekatan dengan cara persuasif, low profil,mengangkat tema-tema baru, bersifat mengajak,dan menempatkan calon pemilihnya pada posisi cerdas.

Dari dua model tersebut diatas dapat lagi kita identifikasi faktor-faktor apa saja yang mendukung keberhasilan dan kegagalan mereka dalam mengumpulkan suara rakyat.Demokrat dan PKS, dapat dikatakan termasuk yang berhasil memainkan perannya sebagai partai modern itu (walaupun belum sepenuhnya). Gerindra Hanura, PAN, PKB, lebih memilih cara-cara lama (cara-cara partai orde baru). ada yang lebih menonjolkan orator,pengerahan massa,agitatif, ada yang jelas mengedepankan tokohnya bahkan ada yang latah justru memperlihatkan sentimen politik yang justru menguntungkan partai yang dijadikan sasaran kritik mereka.

Yang lebih tragis lagi tidak satupun partai-partai tersebut mencoba cara-cara baru dalam mendekati konstituennya, umpamanya berani mengkritik sekaligus berani memaparkan opsinya dan melakukan komparasi dari apa yang sudah dikerjakan dengan apa yang akan dikerjakan dan memaparkan kemungkinan hambatan yang akan mereka hadapi jika mereka melakasanakan rencananya sekaligus menjelaskan langkah-langkah yang akan dijadikan sebagai antisipasi.

Apa yang dapat kita simpulkan dari fenomena politik sekarang ini adalah, ternyata rakyat jauh lebih cerdas dibandingkan dengan para politikus itu dan itu sudah dibuktikan dengan gambaran umum perolehan suara oleh partai-partai peserta pemilu 2009 ini. Sistem politik nasional masih dalam bentuk yang tidak jelas arahnya. Sistem katatanegaraan kita belum mempelihatkan bentuk yang jelas apakah sistem Presidensial atau Parlementer. Kekuasaan terpusat pada segelintir atau sekelompok orang. Rakyat dijadikan sebagai alat kekuasaan. Pemilu dijadikan proyek bukan sebagai alat kelengkapan sistem demokrasi. UU tentang pemilu tidak berorientasi pada kepentingan rakyat. Partai-partai politik tidak difungsikan sebagai institusi pendidikan politik bagi rakyat hanya sebagai kenderaan kekuasaan.

KOndisi buruk itu akan berlanjut terus setelah pemilu ini usai dilaksanakan. Begitu dilantik para anggota Dewan itu akan sibuk lagi berebut kursi kepemimpinan yang ada didalam gedung rakyat itu Begitulah potret politik negara kita sekarang ini, kuncinya adalah rakyat,kecerdasan rakyat dalam menentukan pilihannya kalaupun tidak sempurna paling tidak mendekati kesempurnaan it

MENGEMBANGKAN PUSAT STUDI/BENGKEL KERJA PROGRAM STUDI IPS


Oleh : Toto Pardamean

Semua program pendidikan yang ada di sekolah-sekolah sekarang ini sesungguhnya penting, namun patut untuk diperhatikan arah mana tujuan dari semua program pendidikan itu diinginkan. Jika kita mau jujur, beberapa program studi (jurusan) yang ada di sekolah menengah umum baik SMA ataupun MA masih belum mampu menjawab pertanyaan yang berkenaan arah dari program pendidikan itu ditujukan. Semuanya serba terlalu samar-samar antara program penyiapan tenaga kerja siap pakai atau calon ilmuwan.

Program studi IPA dan IPS sama-sama tidak memperlihatkan karakteristik studi yang khas dan fokus atau tidak kuat basic keilmuannya. Banyak Siswa program IPA yang tidak mampu menerapkan beberapa ilmu keIPAannya dalam bentuk praktis, misalnya biologi,fisika,kimia walaupun dalam kategori paling sederhana. Apakah itu membuat sabun,sampo,parfum,bell,menyilang tanaman. Demikian juga siswa program IPS, banyak yang tidak mampu melakukan wawancara,mengorganisasi teman-temannya,melakukan riset tentang masyarakat sekitarnya (walau dalam kategori sederhana),menghitung dan mengelola usaha kecil,menggambar denah/peta (walau dalam kategori sederhana).

Jika dibandingkan dengan fasilitas yang ada dan intensitasnya perhatian berbagai pihak terhadap program studi IPA saat ini, tampak sekali kesulitan itu semakin terasa di program studi IPS. Bagaimana tidak, hingga hari ini program studi yang satu ini tidak pernah terpikirkan untuk dibuatkan laboratoriumnya pada hal program studi ini juga memerlukan itu sebagai pusat kajian teknis dari berbagai konsep ilmu sosial yang ia pelajari. Dan hampir dilupakan bahwa di program ini juga dipelajari berbagai ilmu terapan yang memerlukan peralatan dan perlengkapan teknis, diantaranya misalnya Ilmu Geografi, Ilmu Ekonomi/Koperasi,Ilmu Sejarah,Ilmu Kewargaan negara, Ilmu Sosiologi, Ilmu Bahasa.

Jika kata Laboratorium dianggap tidak tepat untuk program IPS bisa saja kita sebut Bengkel Kerja atau Pusat studi atau apapun namanya. Di sini siswa program IPS dapat dilatih secara teknis untuk memperaktekkan atau memperagakan atau mensimulasikan persoalan-persoalan sosial yang tengah ia pelajari. Geografi (misalnya) sangat memerlukan meja gambar, kertas plano atau kertas kalkir, Kamera, alat ukur, maket-maket permukaan bumi dan foto-foto fenomena alam, peta dengan berbagai jenis dan karakter. Ekonomi memerlukan bahan jurnal, warung mini, koperasi mini, surat-surat kabar yang berisikan perkembangan pasar dan ekonomi setiap harinya, bank simulasi. Sosiologi memerlukan berbagai miniatur rumah adat, corak budaya. Kewargaan negara memerlukan contoh-contoh bukti kewargaan negara, kitab Undang-Undang tentang Kewargaan negara. Sejarah memerlukan maket-maket barang-barang purbakala, bukti-bukti sejarah lainnya.

Sebuah ruang sekapasitas Laboratorium IPA sangat dibutuhkan program studi IPS untuk lebih mengedepankan eksistensi, nilai guna dan nilai lebih untuk menghidupkan aktivitas belajar seluruh siswa program IPS sehingga tidak lagi diasumsikan sebagai program yang tidak jelas dan kelas dua. Saya yakin dengan manajemen sosial yang baik program IPS ini dapat menunjukkan pendaya gunaan Laboratorium IPS jauh lebih hidup dan bergagasan untuk siswa setelah tamat dan tentunya untuk masyarakat dan pemerintah (paling tidak di tingkat desa). Di Pusat studi/Bengkel kerja IPS itu akan dapat diarahkan setiap bidang ilmu memprogram kegiatan tambahan yang terfokus pada sudut keterampilan dan sikap sebagai tindak lanjut dari kemampuan kognitifnya di kelas.

Bila dibandingkan dengan Laboratorium IPA dana yang dibutuhkan di Pusat Studi IPS ini jauh lebih sederhana, namun persoalannya berbagai pihak termasuk sekolah sampai saat ini belum pernah berpikir tentang hal itu, pada hal secara nasional kita masih memerlukan tenaga penyuluh dan tenaga teknis kependudukan yang terampil dan taktis. Lihat saja soal data kependudukan kita, lihat saja masalah tata ruang kita. lihat saja tentang masalah pendidikan politik kita. Semua hal itu membuktikan bahwa program studi IPS ini sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh negara ini disamping tenaga-tenaga tehnokrat yang dihasilkan oleh program studi IPA.

Yang ideal itu sesungguhnya adalah keseimbangan dan keselarasan yang dapat membangun keharmonian dua program itu dalam memecahkan masalah-masalah masyarakat, tidak seperti yang terjadi selama ini mendikotomikan dua bidang itu sehingga pada realitasnya terjadi kepincangan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kepincangan perlakuan pemerintah dan masyarakat dalam memandang dua program ini. Kepincangan dana pembinaan.Kepincangan penempatan tenaga kerja. Kepincangan dalam perumusan formasi dalam lapangan kerja dsb.

Persoalan ini tidak sederhana jika kita secara analisis mengkajinya. Persoalan ini menyangkut efektivitas pelaksanaan program pendidikan yang bermuara kemasa depan bangsa kita kelak. Sebagai contoh realis dari akibat dikotomi antara dua program ini adalah sekarang produksi teknologi dan kimiawi yang tidak mempertimbangkan dampak sosial banyak beredar dan di konsumsi masyarakat sehingga menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan bangsa. Persoalan ini tentunya juga menjadi tanggungjawab pendidikan dan gerakannya harus dimulai sejak dini sesuai dengan tingkatannya dan metode yang sesuai pula serta peralatan yang sesuai pula. Hal ini sangat tergantung dari kemampuan kita dalam mendesain program pendidikan kita sehingga tidak ada yang tidak jelas (dalam bahasa sopannya tidak ada istilah sekolah umum/tak jelas itu).

Sekolah atau lembaga pendidikan memang harus bersifat khas (jelas) bukan bersifat umum (mengambang). Pengorbanan waktu, tenaga, pemikiran, biaya harus mampu dibayar dengan kepastian yang dihasilkan lembaga pendidikan. Tidak seperti sekarang ini, para lulusan itu tidak dapat memastikan dirinya dapat melanjutkan pendidikannya, tidak dapat memastikan dirinya mendapat kesempatan kerja apalagi menciptakan lapangan kerja sendiri. Persoalan inilah yang paling urgen untuk direalisasikan dalam pendidikan kita.

POTRET RAKYAT INDONESIA

Oleh : Toto Pardamean
Sudah terlalu lama barangkali kita melupakan siapa sebenarnya diri kita, yang tersisa dari semua kelupaan kita itu hanya ada satu saja ingatan kita, kita orang Indonesia !. Kelupaan kita itulah yang menyebabkan tak pernah menemukan jalan dalam membangun jati diri. Sampai-sampai anugrah Tuhan yang diberikan kepada kita tak mampu meyakinkan diri kita bahwa kita semestinya tidak semiskin seperti sekarang ini.

Lukisan sejarah masa lalu cukup sudah sebagai bukti bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki jati diri, berwawasan universal, berkemandirian tangguh. Sejarah Sriwijaya, Mojopahit, Mataram, Samudra Pasai, Demak,dan banyak yang lainnya diperoleh justru dalam kesederhanaan berpikir, kesederhanaan kehendak, kesederhanaan pola dan tata cara.

Kita juga diberi modal kedamaian hati, kesederhanaan hidup, keteladanan, kecintaan terhadap sesama dalam pengertian yang sesungguhnya. Ketika itu kita tidak mengenal jas dan dasi, kita tak mengenal pestisida dan insektisida, kita tidak mengenal Pasar Modal dan Money Changer, kita tidak mengenal makananan cepat saji dan minuman supplemen. Kita hanya percaya pada apa yang kita miliki, sarung dan kebaya, pupuk kandang dan organik, jamu dan jahe wedang,kopi dan teh segar, pajak tradisional dan koperasi.

Ternyata toh, bangsa ini jaya dan disegani.

Hingga akhirnya sampailah kita pada zaman yang amburadul ini, diawali dengan pertemanan dan kekaguman kita pada dunia yang tidak kita kenali. Kita paksa diri kita berubah seperti orang lain tanpa mengerti sedikitpun alasan apa yang membuat kita berkesimpulan demikian. Kita tinggalkan semua warisan dari pendahulu kita atas nama modernisasi dan pergaulan dunia. Kita tak lagi asyik dengan suara anak-anak kampung yang ramai mengaji di langgar-langgar ketika maghrib terlewati. Kita tak asyik lagi mendengar nyanyian puji-pujian terhadap negeri kita karena kita terlalu jauh melompati masa depan.

Persoalan bangsa kita sebenarnya sangat sederhana, tidak sebesar apa yang selama ini banyak dijadikan alat berkelit oleh para penguasa ketika menjawab pertanyaan rakyatnya. Persoalannya adalah kita tidak mengenali lagi diri kita, bangsa kita, budaya kita dan hasrat kita, rakyat Indonesia !.

MEMBANGUN POLITIK DINASTI

Oleh : Drs.Toto Pardamean

Kultur kekerabatan, koneksi, turunan, ataupun berdasarkan latar belakang bendera organisasi asal dalam perjalanan politik di Indonesia terus berlanjut. Fakta ini semakin terakomodasi dalam kondisi perpolitikan saat ini. Lihat saja bagaimana cara pandang dan pertimbangan partai-partai dalam menentukan arah kebijakan politiknya. Dalam partai secara sistematis dibangun sebuah tradisi kultus terhadap sosok atau sejarah masa lalu yang secara historis maupun emosional memiliki hubungan dengan partainya masing-masing. PDIP tetap tidak mampu dan tidak mau melepaskan diri dari nama besar seorang Soekarno walaupun signifikansi antara perjuangan Soekarno dengan alur perjuangan PDIP perlu dipertanyakan.Partai Golkar walaupun menurutnya sudah berobah paradigmanya namun tetap saja memiliki stigma politik yang sama tanpa perubahan besar, selalu saja merasa sebagai penguasa negeri ini. PPP tetap bertumpu pada sejarah masa lalu sebelum era penyatuan berbagai partai Islam. Ditambah lagi dengan betapa sangat terikatnya semua partai-partai terhadap mantan-mantan petinggi militer.

Dengan fenomena ini maka akan sukar berharap wajah politik negara kita ini akan berubah dalam waktu dekat. Slogan perubahan yang fenomenal pada pemilu 2009 ini dan kerap digunakan sebagai tema pilihan pada kampanye beberapa partai hanyalah sekedar bahasa lain dari ambisi pengambil alihan kekuasaan yang disana tidak terlihat rakyat berada diposisi mana.Presiden berubah, menteri berubah, anggota DPR berubah hanya itu, artinya tidak ada perubahan apa-apa sama sekali. Koalisi Partai-partai pun tidak akan menghasilkan perubahan nasib rakyat sebab semua orang tahu siapa saja yang akan berkoalisi itu dan kepentingannya sudah mudah untuk ditebak. Motivasi merekapun sudah jelas, ada yang takut kalah alias panik ada yang memanfaatkan moment (kesempatan). Mengapa panik dan mencari kesempatan karena didorong oleh ambisi kekuasaan. Politik cari muka dan angkat telor pun dipilih untuk memperoleh simpati dan rekomendasi demi kursi kekuasaan itu.

Pertengkaran atas asumsi kecurangan dan kelemahan UU pemilu menjadi konsumsi untuk saling menjegal sesamanya padahal mereka yang mempersoalkan itulah yang membuat UU dan sistem itu. Struktur organisasi kepartaianpun kacau balau, ada Ketua Umumnya tak tak punya arti apa-apa sebab berada dibawah kekuasaan Ketua Dewan Pembina dan Penasehat. Pengurus di level bawah yang punya konstituen hanya jadi sapi perahan dari Pengurus Pusatnya sebagai pemegang mutlak keputusan-keputusan startegis. Partai-partai politik bagaikan pemegang ootitas di negara ini. Yang namanya Rakernas sejenisnya hanya membicarakan peluang menduduki kursi jabatan tidak menghasilkan program kerja yang bermanfaat bagi rakyat. Hal ini sama artinya melenggang keistana negara dan Gedung DPR dengan tangan kosong tidak membawa konsepsi yang referesentatif tentang apa yang dikehendaki rakyat untuk ia kerjakan.

Bagaimana bisa bicara tentang rakyat jika dalam kasak-kusuk pemilu kali ini tak pernah dibicarakan soal rakyat kecuali soal hak pilih itupun karena ada hubungannya dengan kepentingan partai. Bagaimana bisa berharap banyak pada Dewan atau Partai jika ada partai yang mengusung calonnya sekeluarga menuju DPR. Yah begitulah kondisi negara kita ini yang tengah balik mundur beberapa abad kebelakang dengan munculnya indikasi membangun politik dinasti dalam bentuk baru dan secara samar. Disamarkan dengan maksud agar tak mudah terbaca dan mudah dipatahkan oleh rakyat. Terlepas dari motivasi apa yang menyebabkan menyebarnya suara rakyat sehingga tidak memungkinkan adanya partai yang singel mayoritas,paling tidak hal ini bisa dijadikan pembelajaran bagi para pemain politik itu menyadari bahwa yang memiliki kekuasaan sesungguhnya di negara ini adalah rakyat. Sikap rakyat yang independen dalam pemberian suara itu harus terus diperkuat bahkan lebih dipertegas, hanya dengan itu dinasti atau rezim dapat dilawan dan dipatahkan.

KOALISI YANG MENGENYAMPINGKAN KEPENTINGAN DEMOKRASI

Oleh : Drs. Toto Pardamean

Kita sepakat koalisi adalah salah satu bagian dari kegiatan politik. Yang tidak kita sepakati adalah motivasi pelaksanaan koalisi yang mengabaikan apa yang menjadi kehendak rakyat. Bayangkan Presiden yang sudah dipilih secara langsung oleh rakyat harus lagi diganggu oleh ancaman-ancaman tidak memperoleh dukungan penuh dari parlemen walaupun apa yang hendak dikerjakan presiden belum diketahui. Ketakutannya adalah nanti/seandainya/ditakutkan semua program yang akan diajukan oleh Presiden/Pemerintah akan ditolak oleh Parlemen, memangnya sistem ketatanegaraan kita menganut paham parlementer ?. Yang benar saja Bapak-bapak, bagaimana jika rubah alurnya, misalnya jika program yang diajukan pemerintah penting untuk rakyat tetapi karena soal like and dislike,rame-rame anggota DPR menolak, terus presiden adakan press realise yang menerangkan apa yang sesungguhnya terjadi, bisa saja rakyat marahnya ke DPR kan ? dan barangkali perlu juga didorong agar Rakyat juga berani protes pada DPR RI sebab bagaimanapun suara Rakyatlah yang paling penting untuk didengar bukan suara wakilnya yang sama sekali tak pernah mau mendengar dan mengutamakan. Koalisi itu nggak perlu amat, kekuatan presiden dalam meneguhkan keberanian untuk melakukan apa saja untuk kepentingan rakyat, itulah yang penting. Presiden harus punya tim kuat untuk selalu mendekati rakyat mencatat dan menginventarisasi semua persoalan yang dihadapi rakyat.

Apa yang bisa diharapkan dari DPR kita sekarang ? ngomong doang yang tak bermutu sama sekali, persis sama dengan obrolan di kedai kopi. Apa yang mereka obrolkan sudah lama dibahas oleh rakyat di sudut-sudut ruang tak ada yang baru sehingga wajarlah jika DPR sekarang ini tak punya wibawa apa-apa. Ada beberapa pilihan yang perlu didorong kepermukaan, tentang keberanian seorang presiden untuk komitment berkoalisi dengan rakyat dan keberanian person anggota DPR untuk melepaskan diri dari cekokan partai ketika statusnya sudah resmi sebagai wakil rakyat bukan wakil partai. Jika dua keberanian itu terwujud dapatlah kita berharap fungsi kontrol rakyat akan semakin kuat. Soal keberanian person anggota DPR untuk melepaskan diri dari cengkeraman partai selama masa jabatannya sudah ada dasarnya dengan diberlakukannya sistem suara terbanyak bagi caleg, nah apa lagi tinggal teruskan dan lengkapi. Kita meyakini kedepan akan terpilih calon-calon yang benar-benar dikenal oleh masyarakat pemilihnya dan tahu persisi kondisi daerah pemilihannya.Dan memaksa caleg untuk benar-benar mempertimbangkan pencalonan dirinya.

Dalam kasus pembuatan UU kita bisa melihat berapa banyak UU yang justru merugikan rakyat malah dirumuskan sedemikian rupa untuk kepentingan sekelompok orang dalam status yang berbeda-beda, ada kepentingan elite politik disitu, ada kepentingan konglomerat disini, ada untuk kepentingan pejabat disana. Hal ini disebabkan karena saluran politik rakyat dibelokkan kearah yang dapat membuatnya kehilangan arah. Demokrasi tidak harus berkutat sebatas teori sebab konsep itu dilahirkan dari pengalaman hidup sebagai rakyat ditengah penindasan penguasa (paradigma penguasa saat ini terpusat pada elemen Pemerintah, elemen Pengusaha Besar, elemen Politikus). Kunci dari pengakhiran penindasan itu adalah kekuatan kemandirian rakyat.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa membangun kekuatan kemandirian Rakyat (termasuk kekuatan kemandiri politik rakyat) tidak mudah dicapai. Faktor kemiskinan, kebodohan dan ketergantungan selalu diciptakan secara sistematis sehingga menguatkan ketidak mandirian sikap politik Rakyat. Dan malangnya sekelompok orang-orang yang memiliki kepedulian dalam kesadaran membangun kekuatan dan kemandirian politik Rakyat, pada umumnya juga tidak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk mendukung kegiatan mereka.

Tetapi bagaimanapun jika rakyat terus diberi informasi dan advokasi yang dimenej dengan baik toh akhirnya akan mendorong kesadaran itu.Sebenarnya secara samar kita bisa melihat awal keperkasaan rakyat untuk menjadi pemegang keputusan di negara ini dengan diberlakukan pemilihan umum secara langsung ini, hanya saja perlu lebih dikuatkan dan difokuskan. Kepada lembaga-lembaga swadaya masyarakat kita sangat berharap lebih merapatkan barisannya untuk benar-benar menegakkan kekuatan kemandirian politik Rakyat tanpa tercemari oleh kepentingan kelompok itu sendiri.Kita juga tak perlu menutupi adanya sebagian Lembaga-lembaga yang menjadi menyimpang menjadi corong kepentingan tertentu yang tidak ada korelasinya sama sekali dengan apa yang menjadi kebutuhan Rakyat.

Apapun namanya, koalisi atau blok semuanya tidak menunjukkan keberpihakannya kepada kepentingan Rakyat, dalam kondisi seperti ini maka kesatuan Rakyatlah yang perlu dibangun sebagai pusat kontrol dari apapun yang dikerjakan oleh pemerintah dan DPR. Harus ada yang memfasilitasi rakyat untuk mengkonsolidasikan dirinya dalam kemerdekaan tanpa ikatan apapun kecuali ikatan kebangsaan dan kemanusiaan. Rakyat harus angkat bicara walau dalam bentuk sesederhan apun untuk memproklamasikan kebebasan dan kemerdekaan rakyat dalam bingkai keadilan dan kesejahteraan bersama. Kita berharap akan semakin banyak rakyat yang tidak menggadaikan diri dan hatinya kedalam dagelan politik yang diberi label koalisi partai itu. Produk-produk dagelan politik itu tidak akan efektif jika kita sebagai rakyat tidak menjadikannya sebagai pilihan utama konsumsinya. Rakyat harus memerdekakan dirinya sendiri memang. Dan kemerdekaan itu hanya bisa kita capai dengan berjuang secara bersama-sama atas nama rakyat.

DEMOKRASI MANIPULATIF

Oleh : Toto Pardamean
Dengan berbagai cara Partai berusaha membujuk rakyat agar mendukung mereka dengan satu kepastian. kekuasaan !. Tak berbeda antara pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden. Mereka bilang ini adalah demokrasi, sistem, konstitusi, pendidikan politik, perjuangan, untuk kepentingan rakyat dan demi kesejahteraan. Kalau demikian, tentu teori keterwakilan rakyat perlu dipertanyakan ?
Caleg dan Capres maupun cawapres kan atas usulan Partai yang tak pernah dikomunikasikan dengan Rakyat, tidak juga atas penilaian anggota DPRRI yang katanya mewakili rakyat itu. Rakyat cuma disodori calon yang diusung Partai Politik yang berada diluar gedung DPR yang kedudukannya dimata hukum sama saja dengan rakyat yang tidak terikat partai apapun. Tetapi nyatanya seolah-olah partai dan orang-orangnyalah yang paling legal dan paling tahu apa kehendak rakyat. Makin dekat waktu pemilihan capres dan cawapres maka semakin banyak lelucon partai-partai bermunculan. Ada yang sangat yakin mensejajarkan dirinya dengan tokoh lama yang berperan dalam proklamasi beberapa waktu yang lalu. Ada yang seolah-olah merasa sejajar dengan rakyat miskin sehingga perlu mendeklarasikan pencalonannya ditengah tumpukan sampah yang selama ini tak pernah ia kunjungi. Ada yang merasa perlu mensejajarkan dirinya dengan presiden Obama.
Pemilihan Calon Presiden secara langsung sekarang ini hanyalah sebuah kebohongan publik. Pemilihan langsung yang terkurung oleh kepentingan para pemeran drama politik itu. Pengertian langsung disini hanya sekedar langsung pegang pulpen (pena) contreng apa yang ada, tak boleh protes bilang lho...saya tak menemukan calon yang saya inginkan.
Rakyat terkepung oleh segerombolan orang-orang yang merasa pintar sendiri, merasa berjasa sendiri, merasa pahlawan sendiri, merasa ahli sendiri, dan merasa benar sendiri. Keanehan-keanehan politik itu bisa kita lihat dari :
1. Pemilihan capres dan cawapres langsung ternyata tidak langsung dalam pengertian sebenarnya.
2. DPR tak pernah tanya pada rakyatnya siapa yang mereka inginkan jadi capres dan cawapres.
3. Dalam pemilu capres dan cawapres, justru orang-orang partai yang sibuk bahkan ngotot, saling sikut dan gertak, jual nama rakyat seenaknya.
4. Tak ada LPJ presiden dan wakil presiden serta kabinetnya sebelum mengakhiri masa jabatannya, kalau ada hanya sebatas pidato penutup akhir jabatan.
5. Bahkan capres dan cawapres harus dari partai, kalau tidak silakan untuk siap di caci maki
6. Banyak lagi keanehan-keanehan demokrasi Indonesia lainnya.

Jadi tak usah heran jika pelajaran yang paling rumit di sekolah sekarang ini adalah masalah demokrasi itu. Bagaimana seorang guru menjelaskannya secara jelas kepada anak didiknya jika akhirnya pada tahap penerapannya hanyalah berisi kebohongan-kebohongan, tipu muslihat, rekayasa, kompromi dan kongkow-kongkow.Tidak ada kecerdasan politik, tidak ada kecerdasa perjuangan, tidak ada idealisme perjuangan, tidak ada kesucian niat dalam berbuat. Analisis saja pandangan mereka ketika merengek-rengek memohon dukungan rakyat, dimana logikanya keindahan yang ia janjikan dapat tercapai dalam 5 tahun masa jabatannya. Bagaimana kita bisa percaya jika yang ngomong sudah pernah berkuasa tetapi tak menghasilkan apa-apa. Kok nggak malu ya sama rakyat ?!
Ah...memang pusing jadi rakyat di negara ini. Derita kita tanggung sendiri, tetapi bayar hutang kita tanggung bersama. Rakyat yang bertanam pejabat yang memanen hasilnya. Ayo tanya ! siapa capres dan cawapres, caleg yang berani bertarung tanpa sejumlah TS yang digaji sedemikan banyak itu . Itu artinya mereka tidak cukup percaya diri dinilai secara langsung oleh rakyatnya.

Jadi akhirnya apa ? berlakulah pepatah "....tak ada rotan akarpun jadilah..!" terus dilanjutkan dengan sebuah pepatah versi baru "....memilih yang terbaik dari yang terburuk...".
Kondisi ini akan menghasilkan kehidupan negara yang tak jelas arahnya (seperti sekarang ini) dan tampaknya tak banyak yang bisa diharapkan, apalagi melihat calon-calon sekarang ini.
Pilih JK dan Wiranto ? apa bedanya dengan yang dulu, pilih Mega dan Prabowo ? apa istimewanya, pilih SBY dan Budiono ? ya paling seperti pepatah yang tadilah.
Memang, katanya inilah realitas ! terus kalau begitu, benar juga kalau DPR itu nggak penting-penting juga nampaknya, nggak manfaat-manfaat amat, nggak perlu banyak-banyak juga. Benar juga kalau partai-partai itu nggak perlu-perlu juga. Kalau kita bicara seperti itu jelas ,mereka yang berkepentingan dengan soal kekuasaan itu marah-marah dan berargumentasi tentang demokrasi, politik dsb. Mereka akan bilang ini berlaku universal, yang buat ahli-ahli, anda tahunya apa ? Masih syukur jika kita tidak dipenjarakan!.
Tetapi kita harus lanjutkan ; ...kalau kita menerapkan sistem yang dikehendaki oleh rakyat (bukan politikus saja) walaupun bukan berasal dari adopsi teori barat,timur,tenggara, apa salah, apa nggak boleh, apa nggak bisa berhasil ?. Ternyata toh, berbagai macam teori yang kita adopsi dari teori luar dan kita pakai selama ini tidak membawa hasil apa-apa bagi rakyat. Teori ekonomi, teori pendidikan, teori hukum, teori sosial, teori pertahanan dan keamanan, teori politik (apalagi) sama memberi kemelaratan bangsa ini. Yang berhasil hanya satu ; teori agama !
Kesimpulannya adalah ; negara kita sedang dipenuhi oleh paham-paham yang salah, mengabaikan rakyat banyak, mengabaikan kebijakan lokal, menistakan kekayaan budaya lokal. Maka yang perlu disikapi oleh rakyat adalah belajar menganalisis secara benar, menanggapi secara jernih, menguatkan kemandirian sikap walaupun mandiri ekonomi belum sanggup, berlatih dan membiasakan diri sebagai pengumpul informasi (agar tidak mudah tersihir/terhipnotis oleh indahnya bujuk rayu politik),
Memang, pesimis tidak boleh ada dalam kamus hidup bangsa ini. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa ini bangsa pejuang, bangsa yang gigih, bangsa yang bermartabat. Degradasi nilai baru ada setelah sebagian orang yang kebetulan sedang berkuasa lupa pada asal-usulnya dan berganti baju yang diimpornya dari luar diri kita.

Jumat, 18 April 2008

Mengenal Kabupaten Deli Serdang

Kabupaten Deli Serdang adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Ibu kotanya berada di Lubuk Pakam.
Kabupaten Deli Serdang dikenal sebagai salah satu daerah dari 25 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki keanekaragaman sumber daya alamnya yang besar sehingga merupakan daerah yang memiliki peluang investasi cukup menjanjikan. Dulu wilayah ini disebut Kabupaten Deli dan Serdang, dan pemerintahannya berpusat di Kota Medan. Memang dalam sejarahnya, sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah ini terdiri dari dua pemerintahan yang berbentuk kerajaan (kesultanan) yaitu Kesultanan Deli berpusat di Kota Medan, dan Kesultanan Serdang berpusat di Perbaungan.
Bandar udara baru untuk kota Medan yang direncanakan akan menggantikan Polonia, Bandara Kuala Namu, sebenarnya terletak di kabupaten ini.
Sejarah
Sebelum kemerdekaan
Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Kabupaten Deli Serdang yang dikenal sekarang ini merupakan dua pemerintahan yang berbentuk Kerajaan (Kesultanan) yaitu Kesultanan Deli yang berpusat di Kota Medan, dan Kesultanan Serdang berpusat di Perbaungan (± 38 km dari Kota Medan menuju Kota Tebing Tinggi).
RIS
Dalam masa pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS), keadaan Sumatera Timur mengalami pergolakan yang dilakukan oleh rakyat secara spontan menuntut agar NST (Negara Sumatera Timur) yang dianggap sebagai prakarsa Van Mook (Belanda) dibubarkan dan wilayah Sumatera Timur kembali masuk Negara Republik Indonesia. Para pendukung NST membentuk Permusyawaratan Rakyat se Sumatera Timur menentang Kongres Rakyat Sumatera Timur yang dibentuk oleh Front Nasional.
Negara-negara bagian dan daerah-daerah istimewa lain di Indonesia kemudian bergabung dengan NRI, sedangkan Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Sumatera Timur (NST) tdak bersedia.
Negara kesatuan
Akhirnya Pemerintah NRI meminta kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk mencari kata sepakat dan mendapat mandat penuh dari NST dan NIT untuk bermusyawarah dengan NRI tentang pembentukan Negara Kesatuan dengan hasil antara lain Undang-Undang Dasar Sementara Kesatuan yang berasal dari UUD RIS diubah sehingga sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.
Pembagian Sumatera Timur ke dalam 5 Adfeling
Atas dasar tersebut terbentuklah Kabupaten Deli Serdang seperti tercatat dalam sejarah bahwa Sumatera Timur dibagi atas 5 (lima) Afdeling, salah satu diantaranya Deli en Serdang, Afdeling ini dipimpin seorang Asisten Residen beribukota Medan serta terbagi atas 4 (empat) Onder Afdeling yaitu Beneden Deli beribukota Medan, Bovan Deli beribukota Pancur Batu, Serdang beribukota Lubuk Pakam, Padang Bedagai beribukota Tebing Tinggi dan masing-masing dipimpin oleh Kontelir.
Karesidenan Sumatera Timur
Selanjutnya dengan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Timur tanggal 19 April 1946, Keresidenan Sumatera Timur dibagi menjadi 6 (enam). Kabupaten ini terdiri atas 6 (enam) Kewedanaan yaitu Deli Hulu, Deli Hilir, Serdang Hulu, Serdang Hilir, Bedagei / Kota Tebing Tinggi pada waktu itu ibukota berkedudukan di Perbaungan. Kemudian dengan Besluit Wali Negara tanggal 21 Desember 1949 wilayah tersebut adalah Deli Serdang dengan ibukota Medan meliputi Lubuk Pakam, Deli Hilir, Deli Hulu, Serdang, Padang dan Bedagei.[5]
Kabupaten Deli dan Serdang
Pada tanggal 14 November 1956. Kabupaten Deli dan Serdang ditetapkan menjadi Daerah Otonom dan namanya berubah menjadi Kabupaten Deli Serdang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948 yaitu Undang-Undang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah dengan Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956. Untuk merealisasikannya dibentuklah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Dewan Pertimbangan Daerah (DPD).
Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang
Tahun demi tahun berlalu setelah melalui berbagai usaha penelitian dan seminar-seminar oleh para pakar sejarah dan pejabat Pemerintah Daerah Tingkat II Deli Serdang pada waktu itu (sekarang Pemerintah Kabupaten Deli Serdang), akhirnya disepakati dan ditetapkanlah bahwa Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang adalah tanggal 1 Juli 1946.
Perpindahan ibu kota
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1984, ibukota Kabupaten Deli Serdang dipindahkan dari Kota Medan ke Lubuk Pakam dengan lokasi perkantoran di Tanjung Garbus yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara tanggal 23 Desember 1986. Demikian pula pergantian pimpinan di daerah inipun telah terjadi beberapa kali.
Kabupaten besar sebelumnya
Dulu daerah ini mengelilingi tiga “daerah kota madya” yaitu kota Medan yang menjadi ibukota Provinsi Sumatera Utara, kota Binjai dan kota Tebing Tinggi disamping berbatasan dengan beberapa Kabupaten yaitu Langkat, Karo, dan Simalungun, dengan total luas daerah 6.400 km² terdiri dari 33 Kecamatan dan 902 Kampung.
Perubahan luas
Daerah ini, sejak terbentuk sebagai kabupaten sampai dengan tahun tujuh puluhan mengalami beberapa kali perubahan luas wilayahnya, karena kota Medan, Tebing Tinggi dan Binjai yang berada didaerah perbatasan pada beberapa waktu yang lalu meminta/mengadakan perluasan daerah, sehingga luasnya berkurang menjadi 4.397,94 km².
Diawal pemerintahannya Kota Medan menjadi pusat pemerintahannya, karena memang dalam sejarahnya sebagian besar wilayah kota Medan adalah “tanah Deli” yang merupakan daerah Kabupaten Deli Serdang. Sekitar tahun 1980-an, pemerintahan daerah ini pindah ke Lubuk Pakam, sebuah kota kecil yang terletak di pinggir jalan lintas Sumatera lebih kurang 30 kilometer dari Kota Medan yang telah ditetapkan menjadi ibukota Kabupaten Deli Serdang.
2004
Tahun 2004 Kabupaten ini kembali mengalami perubahan baik secara Geografi maupun Administrasi Pemerintahan, setelah adanya pemekaran daerah dengan lahirnya Kabupaten baru Serdang Bedagai sesuai dengan UU No. 36 Tahun 2003, sehingga berbagai potensi daerah yang dimiliki ikut berpengaruh.
Dengan terjadinya pemekaran daerah, maka luas wilayahnya sekarang menjadi 2.394,62 km² terdiri dari 22 kecamatan dan 403 desa/kelurahan, yang terhampar mencapai 3,34% dari luas Sumatera Utara.
Pemerintahan
Bupati
Tercatat dalam sejarah bahwa Bupati di Kabupaten Deli Serdang adalah
1. Moenar S. Hamidjojo,
2. Sampoerno Kolopaking,
3. Wan Oemaroeddin Barus (1 Februari 1951 s.d 1 April 1958),
4. Abdullah Eteng (1 April 1958 s.d 11 Januari 1963),
5. Abdul Kadir Kendal Keliat (11 Januari 1963 s.d 11 November 1970),
6. Haji Baharoeddin Siregar (11 November 1970 s.d 17 April 1978),
7. Abdul Muis Lubis ( 17 April 1978 s.d 3 Maret 1979),
8. H. Tenteng Ginting (3 Maret 1979 s.d 3 Maret 1984 ),
9. H. Wasiman ( 3 Maret 1984 s.d 3 Maret 1989),
10. H. Ruslan Mansur ( 3 Maret 1989 s.d 1994 ),
11. H. Maymaran NS (3 Maret 1994 s.d 3 Maret 1999),
12. Drs.H. Abdul Hafid, MBA (3 Maret 1999 s.d 7 April 2004),
13. Drs. H. Amri Tambunan (periode 2004 s.d 2009).
Wakil Bupati
Perjalanan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Deli Serdang, tercatat beberapa Bupati didampingi oleh seorang wakil Bupati. Pada pertengahan periode kepemimpinan (1997) H. Maymaran. MS, beliau didampingi oleh seorang wakil Bupati Drs. H. Rayo Usman Harahap, sesuai dengan Surat Keputusan Mendagri Nomor 132.22-141 tanggal 24 Februari 1977. Jabatan Wakil Bupati berlanjut dijabat oleh Drs. H. Rayo Usman Harahap pada periode Drs. H. Abdul Hafid, MBA. sampai dengan tahun 2002. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, jabatan Wakil Bupati merupakan satu paket dengan Bupati yang dipilih oleh anggota legislatif. Tahun 2003, Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Deli Serdang, terpilih Drs. H. Amri Tambunan yang berdampingan dengan Drs. Yusuf Sembiring, MBA., MM. sebagai Wakil Bupati untuk periode 2004 sampai dengan 2009.
Legislatif
Demikian pula halnya di legislatif, pimpinan di lembaga inipun sudah silih berganti mulai dari Ketua Dewan dijabat oleh Bonar Ginting, H. Mahmud Hasan, T.A. Muhaid Arief, dan Kapten M. Selamat.kemudian pada priode berikutnya terpilih menjadi Ketua Dewan adalah Letkol Gus Masinan, BA (1971 s.d 1982), H.M. Rizan ( 1982 s.d 1987), T. Abunawar Alhaj (1987 s.d 1992), H. Iping Safei dilanjutkan oleh Usman DS (1992 s.d 1997), Kolonel Drs. H. Nusrin Siregar (1997 s.d 1999), Naik Tarigan, BBA ( 1999 s.d 2004) dan sejak tahun 2004 sampai saat ini Ketua DPRD Kabupaten Deli Serdang dijabat oleh H. Wagirin Arman.
Loading...